Minggu, 04 Mei 2014

Menganalisi Hasil Penelitian Eksplorasi Gaya & Strategi Regulasi Belajar Mahasiswa

Diposting oleh Unknown di 23.33 0 komentar
Salam blogger. 
Pada posting blog ini saya peruntukan sebagai tugas Matematika dan Ilmu Ilmiah Dasar. Dalam tugas ini saya menggunakan hasil penelitian jurnal UGM, yang ditulis oleh Asmadi Alsa, Wahyu Widhiarso dan Yuli Fajar Susetyo  Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. File (PDF)

Pendahuluan 
Latar Belakang Masalah
Popularitas pembelajaran  (student  centered  learning/SCL) SCL di perguruan tinggi  tidak serta merta bebas dari  kritik  para  ahli.  O’Sullivan  (2003)  mengatakan  bahwa  pada kondisi  sekolah yang memiliki keterbatasan akses dan sumber daya yang terbatas, SCL tidak dapat diterapkan  secara  ekstrim.  Lea,  Stephenson,  dan  Troy  (2003) berdasarkan penelitiannya di University of Plymouth menemukan bahwa SCL belum mahasiswa dengan  baik  masih  oleh  mahasiswa  meski  sudah  menjadi  kebijakan  di institusi mereka.  Mennin  dkk.  (1993)  mempertanyakan  strategi  pengukuran  yang tepat untuk pembelajaran SCL dan Estes (2004) mempermasalahkan posisi antara dosen dan mahasiswa yang setara.  

Di  sisi  lain,  kritik  mengenai  pembelajaran  SCL banyak  yang  mendasarkan pada  karakteristik  siswa. Simon  (1999) misalnya, ia melihat bahwa  siswa adalah individu yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga generalisasi penerapan  SCL  kepada  semua  siswa  merupakan  sesuatu  yang membahayakan. O’Neill dan McMahon (2005) menemukan bahwa siswa yang telah terbiasa dengan pembelajaran TCL akan menolak pendekatan pembelajaran dengan menggunakan SCL karena mereka tertekan dengan situasi baru.   Ketertekanan tersebut dijelaskan oleh  Perry  (1970)  terjadi  karena  sebelumnya  siswa  memiliki  konsep dualistik jawaban  ujian  antara  benar  dan  salah  kemudian  mengubah  konsepsinya bahwa semua jawaban ujian adalah tepat.

Rumusan Masalah Penelitian
  1. Bagaimana cara mengeksplorasi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar  mahasiswa  yang  tepat  dengan pelaksanaan SCL?
  2. Apakah pendekatan dalam pembelajaran yang khas  dapat mewadahi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar mahasiswa?
  3. Apa akibat jika penyelenggaraan  pembelajaran  kurang mewadahi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar  siswa?
  4. Seberapa  besar  peran SCL  beserta  varianvariannya mewadahi gaya dan tipe regulasi belajar mahasiswa?
  5. Bagaimana jika ditemukan  adanya  ketidaksesuaian  antara  karakteristik  mahasiswa dan penyelenggaraan  pembelajaran?
  6. Bagaimana  pengajar  dapat  memodifikasi  SCL yang dilaksanakannya.
Tujuan Penelitian
  1. Mengeksplorasi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar  mahasiswa  yang  tepat  dengan pelaksanaan SCL.
  2. Mengetahui karakteristik pendekatan dalam pembelajaran yang khas  yang  memungkinkan  belum  mewadahi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar mahasiswa.
  3. Menunjukkan  akibat  penyelenggaraan  pembelajaran  yang kurang mewadahi  gaya  dan  tipe  regulasi  belajar  siswa.
  4. Mengidentifikasi  seberapa  besar  SCL  beserta  varianvariannya mewadahi gaya dan tipe regulasi belajar mahasiswa.
  5. Mengantisipasi jika ditemukan  adanya  ketidaksesuaian  antara  karakteristik  mahasiswa dalam proses penyelenggaraan  pembelajaran.
  6. Menjelaskan kepada  pengajar  cara  memodifikasi  SCL  yang dilaksanakannya.

Kerangka Teori
Pembelajaran  berbasis  SCL  telah  menjadi  pendekatan  baru  yang  mulai banyak dilaksanakan  di  beberapa  perguruan  tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan pembelajaran berbasis SCL memberikan banyak manfaat, seperti peningkatan  keterampilan  dalam  belajar  (study skills)  dan  pemahaman (Lonka & Ahola, 1995) atau peningkatan partisipasi dan motivasi (Hall & Saunders 1997).  Survei kepada  mahasiswa  mengenai  prioritas  antara  penyelenggaraan pembelajaran SCL dan TCL menunjukkan bahwa 94% mahasiswa lebih menyukai pembelajaran berbasis SCL (Hall dan Saunders, 1997). Popularitas pembelajaran SCL di perguruan  tinggi  tidak serta merta bebas dari  kritik  para  ahli.  O’Sullivan  (2003)  mengatakan  bahwa  pada kondisi sekolah yang memiliki keterbatasan akses dan sumber daya yang terbatas, SCL tidak dapat 
diterapkan  secara  ekstrim.  Lea,  Stephenson,  dan  Troy (2003).berdasarkan penelitiannya di University of Plymouth menemukan bahwa SCL belum mahasiswa dengan  baik  masih oleh  mahasiswa  meski  sudah  menjadi  kebijakan  di  institusi mereka.  Mennin  dkk. (1993)  mempertanyakan  strategi  pengukuran  yang  tepat untuk pembelajaran SCL dan Estes (2004) mempermasalahkan posisi antara dosen dan mahasiswa yang setara.

Di  sisi  lain,  kritik  mengenai  pembelajaran  SCL  banyak  yang  mendasarkan pada karakteristik  siswa. Simon  (1999) misalnya, ia melihat  bahwa  siswa adalah individu yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga generalisasi penerapan  SCL kepada semua  siswa  merupakan  sesuatu  yang  membahayakan. O’Neill dan McMahon (2005) menemukan bahwa siswa yang telah terbiasa dengan pembelajaran TCL akan menolak pendekatan pembelajaran dengan menggunakan SCL karena mereka tertekan dengan situasi baru. Ketertekanan tersebut dijelaskan oleh  Perry  (1970)  terjadi  karena sebelumnya  siswa  memiliki  konsep  dualistik jawaban  ujian  antara  benar  dan  salah kemudian  mengubah  konsepsinya  bahwa semua jawaban ujian adalah tepat.

Setiap  individu  memiliki  perbedaan  dalam  memahami  dan  memproses informasi  yang diberikan  kepadanya.  Perbedaan  ini  dinamakan  dengan  gaya belajar  yang  diartikan sebagai  preferensi  siswa  terhadap  proses atau aktivitas  di dalam  pembelajaran.  Gaya belajar  menunjukkan  cara  seorang  individu  dalam memproses informasi  dengan tujuan mempelajari  dan menerapkannya.  Vermunt (1992)  menggunakan  istilah  gaya  belajar sebagai  keseluruhan  dari  tiga  domain yaitu  proses  kognisi  dan  afeksi  terhadap  materi, model  belajar  mental,  dan orientasi  belajar.    Orientasi  belajar  diartikan  sebagai keseluruhan  domain  yang memuat tujuan, intensi, motif, harapan, sikap dan  ketertarikan mengenai individu terhadap proses belajar (Beaty, Dall’Alba, & Marton, 1997). 

  • Gaya Belajar melalui Perspektif.
Beberapa ahli  membagi  gaya  belajar  melalui  perspektif  yang  bervariasi sehingga didapatkan varianvaian pembagian gaya belajar. DePorter dan Hernacki (1992) membagi gaya belajar individu berdasarkan jenis tampilan informasi yang diberikan  kepada  siswa menjadi  tiga kategori,  antara  lain :
  1. Visual  yang menjelaskan  individu  lebih  menyukai memproses  informasi  melalui  penglihatan.
  2. Auditori yang menyukai informasi melalui pendengaran dan 
  3. Kinestetik yang menyukai informasi melalui gerakan, praktek atau sentuhan. 
  • Dimensi Gaya Belajar
Dennis  (2003)  membagi  gaya  belajar  menjadi  beberapa  dimensi  yang 
memiliki bagian yang berbentuk dikotomi antara lain :
  1. Dimensi  input  yang  memuat  dikotomi  antara  input  visual  dan  verbal. Input visual menunjukkan aktivitas belajar lebih berorientasi pada gambar, diagram dan demonstrasi sedangkan input visual beorientasi pada suara, tulisan, katakata dan rumus.  
  2. Dimensi persepsi yang memuat dikotomi antara persepsi sensori dan intuisi. Persepsi sensori  berorientasi  pada  suara,  sensasi  fisik,  praktis  dan metodologis, sedangkan intuitif berorientasi pada memori, ide, insight, teoritis dan akademis.
  3. Dimensi  organisasi  yang  menunujukkan  bagaimana  individu mengorganisasikan informasi yang didapatkan. Dimensi ini memuat dikotomi antara  organisasi  induksi dan  deduksi.  Organisasi  induksi  lebih  mengarah pada  tahap  observasi  fakta terlebih  dahulu  kemudian  dilanjutkan  dengan penyimpulan  prinsip,  sedangkan organisasi  deduksi  mengarah  pada  tahap prinsip terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan praktek. 
  4. Dimensi  pemrosesan  yang  menunjukkan  bagaimana  individu  memproses informasi  yang  terbagi  menjadi  dua  kutub,  yaitu  pemprosesan  aktif dan pemprosesan  reflektif.  Pemprosesan  aktif  menunjukkan  individu lebih cenderung  belajar  dari  pengalaman  dan  bekerja  sama  dengan individu lainnya,  sedangkan  pemprosesan  reflektif  menunjukkan  orientasi individu pada  penalaran  yang  mendalam  mengenai  informasi  dan  cenderung bekerja secara individual. 
  5. Dimensi pemahaman yang menunjukkan bagaimana cara individu memahami informasi. Dimensi ini membelah dua kutub antara kutub sekuensi dan kutub global. Kutub  sekuensi menunjukkan  pemahaman  dilakukan  secara bertahap dan lebih  banyak menekankan  pada  penyelesaian masalah  tanpa memahami secara  keseluruhan.  Kutub  global  menunjukkan  orientasi  pemahaman lebih mengarah pada sisi integral, mengorganisasikan, dan mensintesis.

  • Gaya Belajar
Kolb (2000) membagi gaya belajar menjadi empat gaya yaitu :
  1. Gaya eksplorasi (diverging)Individu  dengan  gaya  eksplorasi  menyukai  melihat  fenomena  berdasarkan   yang majemuk.  Biasanya  individu  dengan  gaya  ini  menyukai   dalam  kelompok,  lebih terbuka  terhadap  gagasan  dan  menghargai  balik meskipun bersifat personal. 
  2. Gaya asimilasi (assimilating)Individu  dengan  gaya  asimilasi  senantiasa  memahami  permasalahan  secara luas kemudian  disimpulkan.  Mereka  biasanya  menyukai  teori  yang  dapat dirasionalisasi atau  dilogika  daripada  nilainilai  praktis.  Dalam  beraktivitas,mereka  menyukai aktivitas  seperti  membaca,  mengeksplorasi  modelmodel analitis, dan meluangkan banyak waktu untuk berpikir secara mendalam.
  3. Gaya pemusatan (converging) Individu  dengan  gaya  ini  menyukai  mencari  sisisisi  praktis  dari  teori atau gagasan.  Mereka  puas  ketika  mereka  dapat  mengambil  keputusan dengan tepat dan menyelesaikan  permasalahan secara tuntas sehingga mereka lebih berminat  pada  tugastugas  teknis  daripada  membicarakan  mengenai  isuisu yang  bersifat  teoritis. Dalam  belajar mereka menyukai  kegiatan belajar yang menggunakan eksperimen, demonstrasi, simulasi dan praktikum.
  4. Gaya akomodasi (accommodating) Individu  dengan  gaya  ini  mengutamakan  pada  eksplorasi  pengalamanpengalaman yang menantang. Dalam mengatasi masalah, mereka belajar pada orang yang memiliki informasi dan wawasan yang luas.  Individu dengan  tipe ini  menyukai  menyelesaikan tugas  bersamasama  dengan  orang  lain  baik dalam  merencanakan  tujuan, menyelesaikan  tugas  lapangan  dan  mencobacoba cara yang unik dan kreatif dalam menyelesaikan tugas.

Berdasarkan  kombinasi  dari  keempat  gaya  belajar  di  atas,  Kolb  kemudian 
membagi menjadi empat preferensi belajar yang diaplikasikan dalam pengukuran 
dengan  menggunakan  The  Learning  Style Inventory  (LSI)  yang  mengidentifikasi 
empat  kategori  preferensi  belajar  yang  bersifat  ipsatif  antara  lain,  orientasi 
konseptual,  orientasi  pengalaman,  orientasi  aksi  dan  orientasi  refleksi.  Setiap 
pernyataan  yang  di  dalam  inventori  tersebut  mengacu  pada  empat  pilihan 
jawaban,  antara  lain  (1)  prerefensi  rasional  (AC)  (2)  preferensi  hubungan 
interpersonal  (CE),  preferensi  untuk  latihan  (AE),  dan  (4)  preferensi  untuk 
observasi (RO).  
Ahli lain, Vermunt (1996), membedakan empat jenis gaya belajar, antara lain 
tidak diatur (undirected), pengaturan berdasar reproduksi (reproduction­directed), 
pengaturan berdasar makna (meaning­directed), dan pengaturan berdasar aplikasi 
(application­directed  learning).  Vermetten  dkk.,  (1999)  menemukan  bahwa 
keempat  katagori  tersebut  tidak  mudah  untuk  berubah  dalam  diri individu  dan 
perkembangannya dapat dikarenakan oleh karakteristik instruksi. 

Metode
  • Partisipan 
Partisipan  yang  berpartisipasi  dalam  eksperimen  adalah  mahasiswa  yang 
Fakultas  Psikologi UGM  semester  I  yang  berjumlah  115  orang. Pengambilan  data dilakukan di kelas setelah mahasiswa mengikuti perkuliahan. Sebelum melakukan pengukuran peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kegiatan yang dilakukan.  Data  yang dianalisis didasarkan  pada  mahasiswa  yang  menyetujui untuk mengisi lembar persetujuan partisipasi sebelum mereka mengikuti jalannya eksperimen dengan mengisi instrumen yang dibagikan. 
  • Prosedur 
Penelitian  ini  dilakukan  dengan  menggunakan  survei  kepada  partisipan 
penelitian. Variabel  yang  dilibatkan  dalam  penelitian adalah gaya  belajar, tingkat pembelajaran berbasis SCL sebagai variabel bebas dan efikasi diri terhadap belajar berbasis  regulasi  diri  serta  efikasi  diri  terhadap kesuksesan  belajar  sebagai variabel  tergantung.  Semua  variabel  diukur dengan  menggunakan  skala  yang dikembangkan  oleh  peneliti. Pengambilan  data  dilakukan  serentak  pada  satu waktu karena perkuliahan pada mahasiswa baru berjalan secara paralel. 
  • Pengukuran 
Pengukuran  Gaya  Belajar.  Pengukuran  gaya  belajar  dilakukan  dengan 
menggunakan  Kolb’s  Learning  Style  Inventory  yang  telah  diterjemahkan oleh peneliti ke dalam Bahasa Indonesia. Instrumen ini berisi 12 butir pernyataan yang berbentuk  pilihan  ganda  yang  terdiri  dari  dua  alternatif respon.  Instrumen  ini mengukur  empat  jenis  gaya  belajar  yaitu eksperimentasi  aktif  (active experimentation/AE),  pengalaman  konkrit (concrete  experience/CE),  observasi reflektif  (reflective  observation/RO) dan  konseptual  abstrak  (abstract conceptual/AC).  Pada  butir  satu  hingga enam,  pilihan  respon  terdiri  dari  dua alternatif  yaitu  CE  dan  AC sedangkan  pada  butir  tujuh  hingga  dua  belas,  pilihan respon  terdiri dari dua alternatif yaitu AE dan RO. Adanya pilihan yang dikotomi tersebut sesuai dengan teori gaya belajar dari Kolb (XXX) yang mengatakan bahwa CE  dan AC serta  AE  dan  RO  adalah  gaya  belajar  yang  bersifat  bipolar  sehingga 
kedua jensi gaya belajar dipasangkan dalam satu kontinum. Penyekoran dilakukan dengan  cara  menjumlahkan  masingmasing  alternatif  respon. Kombinasi  dari keempat  jenis  gaya  belajar  tersebut  kemudian  menjadi empat  gaya  belajar  yaitu dimensi penemu (converger) yang merupakan penjumlahan skor jenis AC dan AE, dimensi  pembeda  (diverger) penjumlahan skor  jenis  CE  dan  RO,penyerap informasi  (assimilator)  penjumlahan  skor jenis  AC  dan  RO  serta  akomodator (accommodator)  penjumlahan  skor jenis  CE  dan  AE.  Studi  yang  dilakukan  oleh Ruber  dan  Stoult  (1990) menemukan  reliabilitas  alpha  skala  LSI  versi  Bahasa Inggris 0,73 sedangkan pada versi Bahasa  Indonesia memiliki reliabilitas sebesar 
0.60. Pengukuran  Efikasi  terhadap  Keberhasilan  Belajar.  Pengukuran efikasi dilakukan dengan menggunakan skala self­efficacy for self­regulated learning yang dikembangkan  oleh  Bandura  (2001).    Skala  ini  merupakan subskala  dari  skala efikasi  diri  Bandura  (Bandura,  2001).  Meskipun Bandura's  skala  ini  tidak dipublikasikan, sebuah studi pernah menguji properti psikometris  skala ini yang memuat  pengujian  validitas  dan reliabilitasnya  (Rule  &  Grisemer,  1996). Hasil analisis  menunjukkan  bahwa skala  ini  memiliki  korelasi  antaritem  yang  tinggi. Koefisien reliabilitas pada 11 aitem menghasilkan menghasilkan nilai alfa sebesar 
0,81.  Skala  ini  memuat  11  pernyataan  yang  meminta  peserta  untuk melaporkan secara mandiri tingkat kepercayaan mereka dalam kemampuan untuk melakukan regulasi  pada  pembelajaran  tertentu.  Hasil  pengujian reliabilitas  skala  ini  pada versi  Bahasa  Indonesia  menghasilkan reliabilitas  sebesar  0.74  dengan menggunakan sampel 108 mahasiswa. 
Pengukuran Tingkat Pembelajaran SCL.  Pengukuran  tingkat  pembelajaran 
SCL  dilakukan  dengan menggunakan  suvei  perkuliahan  yang dikembangkan oleh peneliti.  Instrumen  ini  berbentuk  checklist  mengenai  ada  tidaknya indikator kegiatan  yang  terkait  pembelajaran  berbasis  SCL diselenggarakan di  perkuliahan di kelas. Skala ini memuat 10 aitem yang memuat indikator pembelajaran SCL yang direspon  oleh  subjek  berdasarkan  dua  alternatif respon  yaitu  ‘ya’  dan  ‘tidak’. Reliabilitas  skala  ini  dengan  menggunakan 100  mahasiswa  menghasilkan reliabilitas sebesar 0,76.
  • Analisis Data 
Analisis  data  dilakukan  dengan  menggunakan  korelasi  parsial  antara masingmasing  gaya  belajar  dengan  efikasi  perkuliahan  dengan menggunakan implementasi pembelajaran SCL sebagai kovariatnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program bantu komputer SPSS versi 13.0 

Hasil  
Frekuensi  gaya  belajar  pada  mahasiswa  yang  ditampilkan  pada  Tabel  1 
menunjukkan  bahwa  gaya  belajar  mahasiswa  psikologi  cenderung  pada jenis pengalaman konkrit dan eksperimentasi aktif yang ditunjukkan dengan prosentase mahasiswa yang memiliki gaya belajar ini cukup  tinggi  (74.6% dan 60.2%). Pada dimensi  gaya  belajar  mahasiswa  lebih  banyak  memilik jenis  belajar  akomodator yang  ditunjukkan  dengan  presentase  yang  lebih tinggi  dibanding  dengan  gaya belajar lainnya (48.3%). Tabel 1 juga menjelaskan bahwa semua gaya belajar terisi oleh mahasiswa  sehingga dapat  dikatakan  bahwa  gaya  belajar mahasiswa  cukup bervariasi. 

Tabel 1.  
Frekuensi Gaya Belajar pada Mahasiswa 

Inventori Gaya Belajar ..........Frekuensi........... Persen
  Jenis Gaya Belajar 
  Pengalaman konkrit (CE)............88.................... 74.6
  Konseptual abstrak (AC).............30.................... 25.4
  Eksperimentasi aktif (AE)............71.................... 60.2
  Observasi reflektif (RO)...............47 ....................39.8
  Dimensi Gaya Belajar 
  Penemu......................................14.....................11.9
  Pembeda.....................................31.....................26.3
  Penyerap....................................16......................13.6
  Akomodator.................................57.....................48.3



Tabel 2.  
Statistik Deskriptif Gaya 

  ......................Rerata........Deviasi Std. ......Kemiringan..... Keruncingan 
Efikasi terhadap pembelajaran ...42.45..............7.640................285........614 
Implementasi SCL....................... 28.27..............3.268................280..............515 

Tabel 3.  
Statistik Deskriptif Efikasi Kesuksesan Belajar ditinjau dari Gaya Belajar   
Gaya Belajar.....................Gaya Belajar......................Rerata.................. Deviasi Std.
Pengalaman konkrit...... Eksperimentasi aktif ..............43.65 .....................7.612 
   .......................................Observasi reflektif...............40.97 ......................7.653 
   ....................................................Total .................... 42.70 .......................7.691 
Konseptual abstrak.........Eksperimentasi aktif .............42.57 ......................7.187 
  ......................................Observasi reflektif.................40.94  .....................8.037 
   ............................................... ......Total.....................41.70.......................7.566 
Total................................. Eksperimentasi aktif............43.44 ......................7.492 
  ........................................Observasi reflektif...............40.96 .......................7.698 
   ........................................................Total....................42.45 ......................7.640 

Statistik  deskriptif  implementasi  pembelajaran  SCL  secara  terpisah  yang 
dikaitkan  dengan  gaya  belajar  dapat  dilihat  pada  Tabel  2  dan  Tabel  3. Datadata pada tabel menunjukkan nilai yang sama baik pada rerata maupun deviasi standar.  



Pembahasan 
Penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  gaya  belajar  aktif  mahasiswa mendukung keyakinannya untuk mampu mengatasi tantangan dalam perkuliahan yang dihadapi dan keyakinan untuk mendapatkan kesuksesan dalam belajar. Hasil ini menunjukkan  bahwa  pembelajaran  berbasis  SCL  yang  mengeksplorasi keaktifan mahasiswa  dapat  berlangsung  dengan  baik  ketika mahasiswa memiliki gaya belajar  aktif  yang  ditunjukkan  dengan  upaya  yang  untuk mengalami secara 
aktif,  belajar  aktif  dengan menggunakan eksperimentasi  dan  belajar  dengan cara bekerja sama dengan rekan sejawat. 

Pemilihan strategi dalam proses pembelajaran diharapkan mewadahi minat 
dan  preferensi  siswa  dalam  belajar  karena  keberhasilan  penyelenggaraan 
pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor tersebut. Siswa yang kurang memiliki 
minat terhadap proses pembelajaran akan memiliki motivasi yang minim sehingga 
keterlibatan  siswa  dalam  pembelajaran  juga  akan  minim.  Schiefele  (1991) 
memperlihatkan  bahwa  minat  siswa  dalam  mata  pelajaran  matematika 
mempengaruhi  keterlibatan  siswa  dalam  proses  pembelajaran  sedangkan  Mayer dan  Massa  (2003)  menemukan  bahwa  preferensi  belajar  siswa  mempengaruhi kesuksesan belajar siswa.  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak ditemui ketidaktepatan antara 
model  pembelajaran  yang  dipakai  oleh  guru  dengan  preferensi  siswa  dalam 
belajar.  Dennis  (2003)  misalnya,  mengatakan  bahwa  proses  pembelajaran yang diselenggarakan  oleh  guru  pada  berbagai  pendekatan seringkali  bersifat  intuitif, verbal, deduktif, sekuensial, cenderung berorientasi pada satu model antara antara pasif atau reflektif, sedangkan siswa lebih banyak yang berorientasi pada sensing, visual,  induktif,  sekuensial  dan  menyukai  keseimbangan  antara  model  aktif  dan reflektif. Pada  beberapa  perguruan  tinggi,  pembelajaran  SCL  merupakan  sebuah kebijakan  formal  yang  diterapkan  pada  semua  atau  sebagian  besar  mata  kuliah yang  ditawarkan  kepada  mahasiswa.  Pada  tataran  tertentu  mahasiswa  tidak memiliki  kesempatan  untuk  memilih  perkuliahan  yang  sesuai  dengan  tipe belajarnya  karena  kelas  tidak  dibagi  menjadi  kelas  yang  menerapkan pembelajaran  SCL  dan  pembelajaran  TCL.  Dalam  hal  ini  siswa  dituntut  untuk mampu beradaptasi dengan strategi pembelajaran yang ditawarkan fakultas meski tidak mewadahi gaya belajarnya.  

Penelitian ini akan dilakukan dengan melakukan survei kepada responden 
penelitian.  Responden  penelitian  adalah  sebagai  mahasiswa  aktif  Fakultas 
Psikologi  UGM.  Gaya  belajar  diukur  dengan  menggunakan  The  Learning  Style 
Inventory  (LSI),  The  Learning  Skills  Profile  (LSP),  Regulasi  belajar  mahasiswa 
diukur  dengan  menggunakan  Self  Regulated  Strategy  Development  (SRSD) 
sedangkan  ketepatan  karakteristik  belajar  mahasiswa  diukur  dengan 
menggunakan  Skala  Sikap  terhadap  Pembelajaran  Berbasis  Mahasiswa  (SCL). 
Prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan juga dilibatkan dalam penelitian in 
yang  diukur  melalui  nilai  (grade)  yang  didapatkan  mahasiswa  pada  akhir 
perkuliahan.   

Terminologi  pembelajaran  berpusat  pada  mahasiswa  (Student  Centred 
Learning/SCL)  pada  literatur  merupakan  kata  yang  bersifat  luas  yang  biasanya dikaitkan  dengan  pembelajaran  fleksibel  (Mayer  &  Massa,  2003),  pembelajaran berbasis  pengalaman  (Burnard,  1999),  atau  self  directed  learning  (O’Neiil  dan McMahon,  2005).  Terminologi  SCL  sendiri  diperkenalkan  oleh  Hayward  dan dipertegas  penggunaannya  dalam  menjelaskan  proses  pembelajaran  oleh  John Dewey pada tahun 1956.  Rogers (1983) menjelaskan bahwa SCL merupakan hasil dari  transisi  perpindahan  kekuatan  dalam  proses pembelajaran,  dari  kekuatan guru  sebagai  pakar  menjadi  kekuatan  siswa  sebagai  pembelajar.  Perubahan  ini terjadi  setelah  banyak  harapan  untuk memodifikasi  atmosfer  pembelajaran  yang menyebabkan siswa menjadi pasif, bosan dan resisten. Kember  (1997)    mendeskripsikan bahwa  SCL  merupakan  sebuah  kutub proses  pembelajaran  yang  menekankan  siswa sebagai  pembangun  pengetahuan sedangkan  kutub  yang  lain  adalah  guru  sebagai  agen  yang  memberikan pengetahuan.  Harden  dan  Crosby  (2000)  menjelaskan  bahwa  SCL  menekankan pada siswa sebagai pembelajar dan apa yang dilakukan siswa untuk sukses dalam belajar  dibanding  dengan  apa  yang  dilakukan  oleh  guru.  Pengertian  ini menunjukkan bahwa SCL menekankan pada apa yang dilakukan oleh siswa.  Gibbs  (1995)  menjelaskan  bahwa  SCL  merupakan  sejumlah  karakteristik antara  lain  1)  keaktifan  pembelajar,  2)  pengalaman  pembelajar,  3)  proses  dan kompetensi,  4)  negosisasi  antara  pembelajar  dan  pengajar.  Ditambahkan  oleh Gibbs,  bahwa  kunci  SCL  terletak  pada  apa  yang  dipelajari,  bagaimana  dan  kapan hal  tersebut  dipelajari  dengan  keluaran  tertentu,  apa  kriteria  dan  standar  yang digunakan, bagaimana penilaian  diberikan  dan  siapa  yang memberikan  penilaian 
tersebut.  Jika  Gibbs  menjelaskan  karakteristik  SCL,  Brandes  dan  Ginnis (1986) 
menyajikan  prinsipprinsip  SCL  yang memuat  beberapa  hal,  antara lain  1) siswa bertanggung  jawab  penuh  terhadap  aktivitas  belajarnya,  2)  siswa  terlibat  dan berpartisipasi aktif  dalam  proses  penyusunan  pembelajaran,  3)  hubungan antara satu  pembelajar  dengan  pembelajar  lainnya  adalah  seimbang  untuk  mendukung perkembangannya,  4)  guru  lebih  sebagai  fasilitator  dibanding  sebagai  sumber ilmu,  5)  pengalaman  pembelajar  menentukan  apa  yang  didapatkannya,  serta 6) pada  akhir  proses  pembelajaran  siswa  melihat  dirinya  berbeda  dengan  sebelum mengikuti pembelajaran. Estes  (2004)  menjelaskan  bahwa  SCL  adalah  proses  pembelajaran  yang menekankan pada eksplorasi pengalaman siswa. Dalam beberapa kasus guru dan siswa  berkolaborasi  secara  sejajar  untuk  berbagi  pengetahuan.  O’Neill  dan McMahon  (2005)  melihat  terdapat  dua  pendekatan  proses  pembelajaran  kepada siswa,  dalam pandangan  kognitif  proses  pembelajaran  dilihat  sebagai  aktivitas pembelajaran  yang dihitung  berdasarkan  aktivitas  otak  sedangkan  pendekatan konstruktivis  lebih  menekankan  pada  aktivitas  fisik  seperti  projek  dan  praktek. Dari  paparan  literatur  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  SCL  merupakan  konsep yang  menjelaskan  pilihan  siswa  secara  mandiri  dalam  proses  pembelajaran, 
keaktifan  siswa  dalam  belajar  dan  pergeseran  peran  guru  dari  pentransfer  ilmu pengetahuan menjadi peran sebagai fasilitator.  

Penutup
Kesimpulan
Penelitian ini mengeksplorasi efikasi pembelajaran yang terdiri dari dua unsur, 
yaitu efikasi terhadap regulasi dalam belajar dan efikasi terhadap kesuksesan 
dalam  belajar. Gaya  belajar  yang  dipakai  adalah  4  gaya  belajar  dari  indeks 
gaya belajar (ILS) dan inventori gaya belajar (LSI). Hasil analisis menunjukkan 
bahwa  gaya  pembelajaran  aktif  berkorelasi secara signifikan  dengan  efikasi 
regulasi  belajar  dan  dan  kesuksesan  dalam  belajar  baik  pada  indeks  gaya 
belajardan inventori gaya belajar (LSI). Korelasi antara gaya belajar aktif pada 
ILS maupun LSI dengan efikasi regulasi belajar dengan mengendalikan tingkat 
implementasi SCL di kelas bergerak dari  ­0.160 (p<0.05) dan  ­0.180   (p<0.05) 
sedangkan  korelasi  dengan  efikasi  kesuksesan  belajar  ditunjukkan  dengan 
korelasi  yang  sama  besarnya  yaitu  ­0.238  (p<0,01).  Hasil  penelitian  ini 
menunjukkan  bahwa  gaya  belajar  mahasiswa  yang  cenderung  berorientasi 
pada gaya belajar aktif akan mendukung kesuksesan mahasiswa dalam belajar 
pada kelas yang berbasis SCL


Kamis, 24 April 2014

Seputar Fakta dan Mitos tentang AURORA

Diposting oleh Unknown di 20.25 0 komentar
Salam Blogger.
Pada postingan ini saya akan membahas seputar aurora diperuntukan sebagai tugas Matematika dan ilmu alamiah dasar.  Manusia dalam perkembangan hidupnya mengalami anehnya fenomena alam seperti salah satunya aurora. Dalam penelitiannya aurora mengalami banyak komentar seperti mitos – mitos yang berkembang.
·         Aurora merupakan salah satu kejaiban alam yang diberikan oleh Tuhan dan dapat dibuktikan secara ilmiah keberadaannya. Telah muncul berbagai macam mitos dari zaman dahulu di saat para pendahulu mencoba menafsir keajaiban alam yang terjadi di bumi. Namun, seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), dewasa ini para ahli dapat meretas mitos-mitos tersebut dalam penjabarannya secara ilmiah. Sehingga membuat mitos yang terkadang menyesatkan dapat ditinggalkan masyarakat terdidik. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menyanggah mitos tentang aurora yang mengatakan bahwa cahaya yang dihasilkan adalah cahaya milik dewa fajar dalam mitos Yunani karena secara ilmiah itu adalah mustahil. Semoga postingan ini bermanfaat.



Pengertian Aurora

·         Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya).
·         Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet akibat dari interaksi antara medan magnet dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari. Di bumi aurora terdapat pada daerah Kutub utara dan kutub selatan dimana medan magnetnya paling besar.yaitu aurora borealis pada kutub utara dan aurora austrialis pada selatan.

·         Di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan namaAurora Borealis (IPA /ɔˈɹɔɹə bɔɹiˈælɪs/), yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah Matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.Tapi kadang-kadang aurora muncul di puncak gunung di iklim tropis.

·                         Kemunculan aurora di angkasa kawasan Kutub Utara selalu mengundang decak kagum. Misteri mengenai sumber energi penyebab cahaya spektakuler itu kini terkuak. Satelit-satelit NASA telah menemukan semacam tali magnetik raksasa yang menghubungkan atmosfer bumi dan matahari. Tali magnetik itulah yang menyalurkan energi matahari sehingga tercipta aurora. Tali magnetik adalah medan magnet yang terjalin seperti tali tambang. Wahana antariksa sebelum ini sudah mengetahui keberadaan tali magnetik itu sekilas, namun belum ada yang berhasil memetakan strukturnya. Di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.Tapi kadang-kadang aurora muncul di puncak gunung di iklim tropis.

    Macam Aurora


Aurora terjadi pada belahan bumi kutub utara dan kutub selatan yang memiliki perbedaan, seperti berikut :
1. Aurora Borealis


Borealis adalah kata Yunani untuk angin utara. Pada bagian belahan bumi utara, gejala alam yang sama ini disebut sebagai Northern Lights atau aurora borealis. Aurora Northern Lights hanya dapat dilihat pada wilayah Lingkaran Arktik, di sebelah utara Kanada, Alaska, Rusia, dan Skandinavia. Pada belahan bumi bagian bumu utara, Aurora Baroealis terjadi seringkali terlihat dengan warna kemerahan di ufuk utara. Seolah-olah menunjukkan matahari akan terbit dari bagian itu. Aurora Borealis kerap kali terjadi pada waktu tertentu pada bulan September dan Oktober, kemudian antara bulan Maret dan April
2. Aura Australis

Pada aurora Australis mendapatkan namanya yang disesuaikan dengan dewa fajar Romawi, Aurora, yang juga merupakan kata Latin untuk fajar. Kemudian Australis berasal dari bahasa Latin yang berarti Selatan, sedangkan  Aurora Australis secara harfiah berarti fajar, atau cahaya selatan. Aurora Australis  yang terjadi pada belahan bumi bagian selatan (Antartika) yang memiliki sifat yang hampir sama dengan Aurora Borealis. Namun Aurora Australis kadang-kadang mulai tampak pada puncak gunung iklim tropis, contohnya pada gunung tertinggi di Indonesia.

Proses Terjadinya Aurora


Fenomena Aurora terjadi karena tumbukan atom-atom yang mengenai partikel-partikel yang memiliki muatan, terutama elektron dan proton yang berasal dari Matahari. Partikel-partikel ini, kemudian terlempar dengan kecepatan tinggi yang lebih dari 500 mil per detik, kemudian terhisap oleh medan magnet Bumi yang berada di sekitar kutub utara dan selatan.
Pada bagian penting mengenai aurora ini bisa terbentuk yakni karena “angin Matahari” yaitu sebuah aliran partikel yang berasal dari Matahari. Angin Matahari tersebut membuat pergerakan sejumlah besar partikel listrik di atmosfer (sabuk Van Allen) .Energi inilah yang kemudian mempercepat gerak partikel sampai ke atmosfer yang kemudian akan bertabrakan dengan berbagai gas. Lalu menghasilkan warna-warna yang bergerak di angkasa.
Proses terjadinya aurora menimbulkan cahaya berwarna yang merupakan hasil dari partikel dan atom berbeda yang mengalami benturan. Perbedaan warna-wanBeberapa warna yang dihasilkan karena fenomena aurora, yaitu :
  •  Aurora hijau – Hal ini terjadi akibat benturan partikel elektron dengan molekul nitrogen.
  • Aurora merah – akibat terjadinya benturan antara partikel elektron dengan atom oksigen.
  •  Aurora hijau dan kuning – Terjadi karena partikel dengan muatan bertabrakan dengan oksigen.
  •  Aurora biru – Ketika terjadi tabrakan antara partikel dengan nitrogen.


Jika diuraikan dengan kata-kata, keindahan langit memang  tidak akan pernah ada habisnya. Sungguh Maha Besar bagi Dia yang menciptakan langit dengan segala isinya.Kali ini kita akan bersama-sama menguraikan rasa penasaran tentang cahaya yang berpendar luar biasa anggun dalam dinginnya atmosfer lintang tinggi. Kemilau cahayanya yang terang menyerupai fajar di pagi hari, mampu menimbulkan mitos di kalangan Bangsa Yunani. Mereka menyebut pendar cahaya itu sebagai kehadiran Sang Dewa Fajar. Namun demikian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, mitos Dewa Fajar itu telah tersisihkan dengan nama Aurora.
  • Aurora merupakan pancaran cahaya pada langit daerah lintang tinggi, sebagai akibat atas pembelokan partikel angin matahari oleh magnetosfer ke arah kutub, serta adanya reaksi dengan molekul-molekul atmosfer.



  •       Matahari, atau Bintang merah yang menjadi pusat orbit planet-planet wilayah tatasurya ternyata hanyalah satu diantara milyaran bintang lainnya di galaksi bimasakti. Pada inti pusatnya, ia memiliki suhu 14 juta kelvin dengan tekanan 100 milyar kali lipat tekanan atmosfer di bumi. Cahaya yang dipancarkan matahari berasal dari reaksi fusi termonuklir yang terjadi pada inti bintang. Secara konveksi, energi hasil reaksi fusi tersebut dialirkan ke permukaan. Dari aliran konveksi tersebut, tercipta medan magnet yang sangat kuat di permukaan matahari. Daerah-daerah medan magnet tersebut relatif gelap (lebih dingin) dari pada sekitarnya, sehingga ia dinamakan bintik matahari atau sunspot.
  • Menurut Pak Ma’rufin, sunspot ini dianggap sebagai bendungan pasir pada arus air yang liar, nah ketika kekuatannya sudah tak sanggup lagi menahan tekanan arus, maka ia akan ‘jebol’. ‘Jebol’nya sunspot ini akan memuntahkan kandungan energi yang disalurkan sebagai arus proton atau elektron. Energi yang dilontaran keluar matahari tersebutlah  yang disebut sebagai angin matahari. Jika dengan intensitas yang besar maka dinamakan badai matahari.


                                                                              
    Proses terjadinya angin matahari. Dimulai dengan terbentuk nya sunspot yang menciptakan medan magnet. Karena kekuatan sudah tak sanggup lagi menahan tekanan arus, maka ia akan ‘jebol’. Jebol nya sunspot ini akan memuntahkan kandungan energi yang disalurkan sebagai arus proton atau elektron. Image Credit : UIO Oslo university
  •  Perjalanan angin matahari menuju bumi, dapat ditempuh selama 18 jam hingga 2 hari perjalanan antariksa. Ketika melewati Merkurius dan Venus, angin matahari akan langsung begitu saja menerpa atmosfernya, sehingga planet tersebut mengalami peningkatan suhu yang luar biasa akibat dari terpaan aliran proton dan elektron yang dibawanya. Namun demikian, lain halnya ketika angin matahari itu menghantam bumi.
  • Bumi ini bagaikan magnet yang berukuran sangat besar, dengan kutub-kutub magnetnya hampir berdekatan dengan kutub geografis bumi. Sehingga bumi ini dilapisi oleh medan magnet (magnetosfer) yang berbentuk sebuah perisai yang mirip dengan buah apel, dimana bumi berada pada inti buahnya dan magnetosfer berada pada kulit buah apel.magnetosfer ini terdiri dari beberapa lapisan, dengan lapisan terbawahnya, sabuk radiasi van allen yang berada di sekitar ekuator (khatulistuwa). Layaknya sebuah perisai, magnetosfer dan sabuk van allen melindungi bumi dari terpaan partikel angin matahari.


                                                                       
    Angin matahari ditunjukkan pada garis kuning sedang medan magnet bumi ditunjukkan pada garis biru.
     
  • Ketika angin matahari menerpa magnetosfer, partikel-partikel angin matahari dibelokkan dan tertarik menuju kutub medan magnet bumi. Semakin tinggi energi partikel, maka semakin dalam lapisan magnetosfer yang berhasil ditembus olehnya. Aliran partikel yang tertarik ke kutub medan magnet bumi akan bertumbukan dengan atom-atom yang ada di atmosfer. Energi yang dilepaskan akibat reaksi dari proton dan elektron yang bersinggungan dengan atom-atom di atmosfer, dapat dilihat secara visual melalui pendar cahaya yang berwarna-warni di langit, atau yang kita kenal sebagai Aurora. Di kutub utara bumi, aurora ini disebut sebagai aurora borealis, dan di kutub selatan, disebut sebagai aurora australis.
  • Interaksi antara angin matahari dengan medan magnet bumi. Sebagian partikel-partikel matahari tertarik menuju kutub.
  • Reaksi antara partikel angin matahari dengan atmosfer bumi, menghasilkan berbagai macam warna pada aurora. Perbedaan warna ini dipengaruhi oleh jenis atom yang berinteraksi dengan proton dan elektron, mengingat pada ketinggian-ketinggian tertentu, jenis atom penyusun atmosfer tidaklah sama. Pada ketinggian di atas 300 km, partikel angin matahari akan bertumbukan dengan atom-atom hidrogen sehingga terbentuk warna aurora kemerah-merahan. Semakin turun, yakni pada ketinggian 140 km, partikel angin matahari bereaksi dengan atom oksigen yang membentuk cahaya aurora berwarna biru atau ungu. Sementara itu, pada ketinggian 100 km proton dan elektron bersinggungan dengan atom oksigen dan nitrogen sehingga aurora tervisualisasikan dengan warna hijau dan merah muda.

·    Cahaya Aurora yang berwarna warni mengandung arti ketinggian.



·         Jika teman-teman berniat dan berminat untuk melihat keelokan aurora secara langsung, bisa langsung saja berkunjung ke daerah-daerah lintang tinggi, seperti Kanada, New Zeland, Antartika, dll. Ketika aktivitas matahari dalam keadaan stabil, maka frekuensi terbentuknya aurora lebih sering pada bulan-bulan ekuinoks. (ekuinoks musim semi jatuh pada tanggal 23 Maret, dan ekuinoks musim gugur adalah tanggal 21 September). Namun demikian ketika aktivitas matahari sedang meningkat, atau dengan kata lain intensitas angin matahari tinggi, maka cahaya aurora pun akan terbentuk semakin terang.


Mitos Aurora


·         Pada mitologi Romawi kuno, Aurora adalah Dewi Fajar yang muncul setiap hari dan terbang melintasi langit untuk menyambut terbitnya matahari. Profil Dewi Aurora juga dapat kita temukan pada tulisan hasil karya Shakespeare.
            Sejak zaman dulu, telah banyak teori yang diajukan untuk menjelaskan fenomena ini dan sebagian teori kelihatannya sudah tidak relefan pada masa sekarang. Benjamin Franklin berteori bahwa “Misteri Cahaya Utara” itu disebabkan oleh konsentrasi muatan listrik di daerah kutub yang didukung oleh salju dan uap air. Kristian Birkeland juga berteori bahwa Auroral Elektron terjadi dari sinar yang dipancarkan matahari, dan elektron tersebut dibimbing menuju kutub utara.
·         Aurora Borealis memang sering terjadi antara bulan Maret-April dan Agustus-September-Oktober. Aurora Borealis adalah fonemana pancaran cahaya yang terjadi di daerah utara atau kutub utara. Pada saat Aurora Borealis terjadi, seakan-akan matahari akan terbit dari sebelah utara.



·   Pembuktian Ilmiah

·          
·         Pada tahun 1958 suatu regu peneliti yang dipimpin oleh James van Allen menemukan sabuk-sabuk radiasi yang terdiri dari partikel-partikel bermuatan (kebanyakan adalah elektron-elekton dan proton-proton) yang bergerak mengitari bumi dalam lintasan yang berbentuk donat. Mereka menemukan sabuk-sabuk radiasi ini setelah mengevaluasi data-data yang dikumpulkan oleh peralatan yang ada di Satelit Explorer I.
·          Partikel-partikel bermuatan yang terperangkap oleh medan magnetik tak seragam bumi, mengitari garis-garis medan magnetik bumi dari kutub ke kutub dengan lintasan spiral. Partikel-partikel ini terutam a berasal dari matahari serta sebagian lain berasal dari bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya. Oleh karena itu, partikel ini dinamakan sinar-sinar kosmik. Kebanyakan sinar-sinar kosmik dibelokkan oleh medan magnetik bumi dan tidak pernah mencapai bumi. tapi beberapa sinar-sinar kosmik lolos dan terperangkap. Sinar-sinar kosmik inilah yang menyusun sabuk-sabuk radiasi yang ditemukan oleh regu peneliti di atas dan diberi nama sabuk-Sabuk van Allen.
·         Ketika partikel bermuatan ini berada di atmosfer bumi akn sering bertumbukan dengan atom-atom lainnya, menyebabkan partikel-partikel ini memancarkan cahaya tampak yang sekarang dikenal dengan nama aurora.
            Aurora terbagi berdasarkan wilayah dimana aurora itu terlihat. Aurora yang ada di sebelah utara dsikenal dengan nama Aurora Borealis. Nama borealis berasal dari bahasa Yunani yang berarti Angin Utara.
·         Hal ini disebabkan Aurora ini tampak kemerah-merahan di ufuk utara seolah olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Suku Inuit atau orang Eskimo mempercayai bahwa hal tersebut karena para arwah sedang bermain bola menggunakan kepala singa laut. Mereka juga percaya bahwa orang yang sering menonton “pertandingan” itu akan menjadi gila. Aurora yang berada di sebelah selatan disebut Aurora Australis karena aurora ini sering terlihat di Benua Australia. Aurora ini sering terlihat berwarna kehijau-hijauan.
            Fenomena ini terjadi pada lapisan ionosfer bumi akibat medan magnetik, dan partikel yang dipancarkan matahari. Sumber energi utama dari aurora adalah angin matahari yang mengalir melewati Bumi. Magnetosfer dan angin matahari terdiri dari gas terionisasi yang menghantarkan listrik.
Aurora yang terjadi tanggal 28 Agustus dan 2 September 1859 mungkin adalah yang paling spektakuler sepanjang sejarah. Aurora di Boston tanggal 2 September 1859 juga dimuat oleh New York Times.
·                     Fenomena Aurora Borealis telah lama menarik perhatian para Ilmuwan. Andres Celcius, antara rentang tahun 1716 sd. 1732 mengamati Aurora Borealis dan menghasilkan sekitar 300 pengamatan yang dipublikasikannya. Celcius adalah seorang Professor Astronomi yang namanya diabadikan sebagai satuan pengukur suhu.
·                     Penerima nobel asal Belanda bernama Pieter Zeeman mempublikasikan laporan tentang Aurora Borealis yang terlihat di Zonnemaire. Elias Loomis juga menerbitkan serangkaian laporan mengenai Aurora di American Journal of Science.
            Aurora juga terjadi pada Planet lain dalam tata surya, misalnya Planet Uranus dan Neptunus. Jupiter dan Saturnus memiliki medan magnet yang lebih kuat dari Bumi dan memiliki sabuk radiasi yang besar. Teleskop Huble digunakan untuk menangkap terjadinya Aurora di planet lain.
Tgl. 14 Agustus 2004, Pesawat Mars Express mendeteksi terjadinya Aurora di planet Mars, para Ilmuwan mempelajari dengan memasukkan data-data yang dihasilkan Mars Global Surveyor, dimana daerah emisi berhubungan dengan suatu daerah yang memiliki medan magnet paling kuat, dan menunjukkan bahwa asal-usul emisi cahaya adalah aliran elektron.
            Pada sebuah fenomena Aurora, satelit menangkap gambar Aurora yang terlihat seperti “cincin api”. Aurora-aurora jenis lain juga diamati dari luar angkasa, misalnya “Poleward Busur”, tapi tampaknya masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai fenomena ini, mengingat fenomena ini sangat jarang akan terjadi.
            Aurora dan arus terkait menghasilkan emisi radio sekitar 150 kHz, dikenal sebagai radiasi Auroral Kilometric yang ditemukan pada tahun 1972 dan dapat diamati dari luar angkasa. Masih banyak hal lain yang harus di teliti dan di pelajari menyangkut proses yang terjadi pada Aurora

  Referensi:
Fredette. 2006. Visual Ilmua dan pengetahuan Populer untuk Pelajar dan Umum: Memahami alam Semesta. Bandung: PT Bhuana Ilmu Populer.
Sudibyo. 2011. Mengenal Badai Matahari (Dan Implikasinya bagi Pengukuran Arah Kiblat). Diakses di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150220689144595
Visualisasi: http://vimeo.com/25811412
Aurora Image Credit : Shawn Malone, Lundeimages.com

·          


Selasa, 04 Februari 2014

Karya Sastra Tahun 60an

Diposting oleh Unknown di 18.41 0 komentar
Contoh cover novel



Judul             : Pertemuan Dua Hati
Pengarang      : N.H.Dini 
Penerbit         : PT.Gramedia pustaka utama
Kelebihan       : 
1. Covernya cukup menarik dengan warna-warna yang menarik. 
2. Tulisan dan bahasanya mudah di mengerti dan mudah di baca.
Kekurangan    : 
1. Kertasnya kusam 
2. Tidak terdapat gambar di setipa halaman sehingga kurang menarik 
Kerangka Novel Di sebuah kota hidup seorang gadis yang bernama Suci. Ia ingin menjadi sekertasi. Ia menikah dengan seorang pria yang berprofesi sebagai montir. Ia pindah ke kota lain mengikuti suaminya. Wasito hanya membuat onar dikelas. Wasito adalah anak yang baik dan pintar. Akhirnya Wasito menjadi anak yang pintar di kelas. Sinopsis novel Di sebuah kota hidup seorang gadis yang bernama Suci. Ia ingin sekali menjadi seorang sekertaris. Tetapi orang tuanya menginginkan dia untuk menjadi seorang guru. Akhirnya ia pun menuruti kehendak orang tuanya. Hingga suatu hari ia pun menikah dengan seorang pria yang berfrofesi sebagai montir. Ia pun di karuniai 3 orang anak. Karena pekerjaan suaminya itu, ia pun harus pindah ke kota lain mengikuti suaminya.Suci pun melamar sebagai guru baru di sebuah sekolah, dan anaknya pun bersekolah di sekolah itu. Sehari setelah ia mulai bekerja di sekolah itu, ia berusaha untuk mendapat mengenal dan memahami anak didiknya satu persatu. Ia memiliki seorang murid yang sedikit aneh dan bandal. Anak itu bernama Wasito. Setiap harinya Wasito hanya membuat onar di kelas, dan mengganggu teman-temannya. Suatu hari ibu Suci ingin berkunjung kerumah nenek Wasito, karena Wasito tingal disana.Ia ingin mengetahui sebab-sebab mengapa Wasito bertingka seperti itu. Sesampainya di rumah neneknya, ibu Suci pun mulai berbincang-bincang dengan nenek Wasito. Nenek Wasito pun menceritakan semua hal tentang Wasito. Ternyata Wasito itu hanyalah seorang anak yang kurang perhatian dan kasih saying dari kedua orang tuanya. Sebenarnya ia adalah seorang anak yang pintar dan baik. Setelah mengetahui itu semua, ibu Suci pun membantu membimbing Wasito untuk menjadi lebih baik. Hingga suatu hari ibu Suci pun berhasil. Wasito menjadi anak yang pintar di kelas. Dan menjadi juara kelas. 
Tema              : pertemuan dua hati 
Alur              : Mundur-Maju. 
Latar             : 
a. Tempat         :
1. Dirumah 
2.Disekolah 
b. Waktu          :
1. Siang 
2. Pagi 
3. Sore 
Tokoh            : Suci, suaminya, nenek Wasito, dan Wasito 
Amanat        : Mesitnya orang tua memberikan perhatian kepada anaknya agar tidak menjadi nakal. 


  •      CIRI NOVEL KARYA ANGKATAN 60-70AN

Sejarah Munculnya Angkatan ’60-70AN
Pada periode 60-an muncul adanya angkatan, yaitu angkatan ‘66. Lahirnya angkatan ‘66 ini didahului adanya kemelut dalam segala bidang kehidupan di Indonesia yang disebabkan ulah teror politik yang dilakukan PKI dan ormas-ormas yang bernaung dibawahnya. Angkatan ‘66 mempunyai cita-cita ingin adanya pemurnian pelaksanaan Pancasila dan melaksanakan ide-ide yang terkandung di dalam Manifest Kebudayaan. Tumbuhnya angaktan ‘66 sejalan dengan tumbuhnya aksi-aksi sosial politik di awal angkatan ‘66 yang dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura.
Munculnya nama angkatan ‘66 telah diumumkan oleh H.B. Jassin dalam majalah Horison nomor 2 tahun 1966. Pada tulisan tersebut dikatakan bahwa angkatan ‘66 lahir setelah ditumpasnya pengkhianatan G.30S/PKI. Penamaan angkatan ‘66 ini pun mengalami adu pendapat. Sebelum nama angkatan ‘66 diresmikan, ada yang memberi nama angkatan Manitest Kebudayaan (MANIKEBU). Alasan penamaan ini karena Manifest Kebudayaan yang telah dicetuskan pada tahun 1963 itu pernyataan tegas perumusan perlawanan terhadap penyelewengan Pancasila dan perusakan kebudayaan oleh Lekra/PKI. Beberapa sastrawan merasa keberatan dengan nama angkata manikebu. Mereka berpandangan bahwa sastrawan yang tidak ikut menandatangani atau mendukung Manifest Kebudayaan akan merasa tidak tercaku di dalamnya, meskipun hasil ciptaannya menunjukkan ketegasan dalam menolak ideologi yang dibawa oleh PKI dalam lapangan politik dan kebudayaan.
Istilah angkatan ‘66 yang dikemukakan oleh H.B. Jassin melalui antologinya mendapat beberapa tanggapan dari berbagai pihak pengarang, diantaranya adalah Ajib Rosidi. Ajib menganggap bahwa penamaan dan pengajuan tesis mengenai angkatan ‘66 itu kurang dapat dipertanggungjawabkan. H.B. Jasssin sendiri berpendapat bahwa angkatan ‘66 ini sejalan dengan tumbuhnya aksi-aksi sosial politik di awal angkatan ‘66 yang dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura. H.B. Jassin merumuskan bahwa sastra angkatan ‘66 adalah sastra yang diwarnai oleh protes dan perjuangan menegakkan keadilan berdasarkan kemanusiaan. Berdasarkan teori tersebut H.B. Jassin berpendapat bahwa tahun 1966 merupakan tahun lahirnya suatu generasi dan konsep baru dalam sastra yang kemudian disebutnya dengan nama angkatan ‘66.

Ajib Rosidi melihat bahwa teori Jassin tidak konsisten, terutama dalam menunjukkan sastrawan-sastrawan yang dianggap mewakili angkatan ‘66. A.A. Navis contohnya ia disebutkan sebagai pengarang angkatan ‘66, namun sastrawan ini muncul sejak tahun 1950-an. Hal ini sebagai dasar Ajib Rosidi dalam menanggapi pendapat H.B. Jassin. Ia tidak melihat teori Jassin ini dapat diterapkan untuk menyebut lahirnya angkatan ‘66. Masyarakat sastra pada umumnya sudah terlanjur menerima pernyataan H.B. Jassin sehingga dalam ilmu sastra pun terdapat penamaan angkatan ‘66.
Pada saat menjelang tahun 1970-an sastra perotes sudah tidak bergema lagi seperti awal tahun 1960-1966. Sastra protes tersebut tercermin pada kumpulan sajak Taufik Ismail, yaitu: Tirani dan Benteng. Awal tahun 70-an mulai berkembang sastra populer dan bermunculan majalah hiburan, majalah wanita, majalah profesi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gema angkatan ‘66 tidak dimulai pada tahun 1966 tetapi pada tahun 1966 justru angkatan ‘66 mulai berakhir.
Uraian di atas telah jelas dijelaskan bahwa keadaan sastra dipengaruhi oleh situasi pada saat itu. Meskipun keadaan sosial budaya dan politik tidak stabil, namun sastra angkatan ‘66 ini mengalami pertumbuhan yang cukup pesat terutama pada genre prosa.

Harapan Malaikat Malaikat Kecil (cerpen)

Diposting oleh Unknown di 07.32 0 komentar
Sebuah cerpen sederhana yang menceritakan harapan-harapan besar anak-anak disebuah desa yang jauh dari kota yang ada namun sedikit terabaikan oleh pemerinta. Dengan tokoh seorang wanita yang mendedikasikan sebagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi relawan didesa tersebut. Tekad hidupnya satu, ingin membantu mewujudkan cita-cita bangsa ini. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Sehingga harapan-harapan tersebut tidak hanya menjadi sebuah mimpi manis, tetapi NYATA!
Selamat membaca :)





HARAPAN MALAIKAT MALAIKAT KECIL
(Cerpen)


Petang bertandang mentari mulai pamit. Langit berwarna jingga bercampur dengan cahaya memerah. Menciptakan guratan indah di langit. Awan bergerak tersapu angin menghantarkan sang surya kembali ke peraduan. Berbaur warna lembayung yang indah merona. Aku berjalan menyusuri tepi sawah yang tersusun rapi dengan padi-padi yang mulai menguning membuatku serasa damai. Sudah hampir setahun aku disini menjadi relawan mengajar, di desa Bantarkawung salah satu desa berbatasan dengan kabupaten Cilacap yang dipagari gunung tinggi. Aku rela meninggalkan keluarga ku, teman-teman ku dan kesenangan ku di Jakarta. Untuk mengabdi menggodok anak-anak bangsa memperoleh pendidikan yang wajar dan berkualitas, walaupun mereka tinggal didesa bukan di kota. Bukankah cita-cita bangsa ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa?


Senja ini aku berjalan-jalan menikmati detik-detik matahari tenggelam menyelinap dibalik gagahnya gunung. Kulihat dari kejauhan gadis kecil duduk dibale-bale, ku amati sepertinya aku mengenalnya. Gadis kecil tersebut bernama Anjani, siswa kelas empat yang aku ajar. Aku akui memang ia sangat pendiam di kelas, namun ia anak yang paling penurut yang pernah ada. Disaat teman-temannya berhamburan pulang dan lupa membereskan sampah, ia tanpa disuruh akan membereskannya dan setia menunggu ku yang sibuk merapikan kelas. 


Aku mulai mendekatinya perlahan “Anjani, sedang apa kamu disini? Cepatlah pulang hari sudah sore.” ujar ku lembut padanya.
“Sebentar ibu guru.” jawabnya sekedarnya dengan lekungan senyum dibibirnya. Namun tunggu sebentar, aku melihat ada sebening air mata dipelupuk mata Anjani.
“Anjani apa kamu habis menangis?”
Anjani hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Aku duduk disampingnya. “Ayo cerita sama Bu Ratna, tidak baik loh menyimpan sesuatu sendiri. Nanti kamu cepat tua. Tak mau kan kulit mu keriput.” rayu ku dengan guyonan ringan.
“Aku kangen mama.” ucap Anjani setengah berbisik. Beberapa bulir air mata membasahi pipi putihnya. Aku tertegun melihat Anjani, aku sendiripun tak tau apa yang terjadi pada ibunya.
“Bu Ratna percaya mama mu juga sangat merindukan kamu.” ujar ku sambil mengusap punggungnya.
“Engga bu, mama engga kangen sama Anjani. Kalau mama kangen sama Anjani mama pasti pulang. Mama engga sayang sama Anjani.” isak tangis kecil Anjani pun terdengar dari mulut mungilnya. Sepertinya Anjani sangat merindukan ibu nya. Aku mengerti sekali perasaan Anjani, aku pun langsung teringat pada ibu ku. Rasa penasaran ku pada Anjani begitu kuat, kemanakah ibunya.

“Memang mama Anjani pergi kemana sayang?” tanya ku hati-hati.
“Mama sudah hampir dua tahun pergi ke Arab Saudi untuk bekerja bu.”ujarnya lirih.
“Walaupun mama Anjani jauh di Arab Saudi sana tapi percaya sama Bu Ratna, mama masih dan akan selalu sayang sama Anjani.  Mama Anjani bukannya engga mau pulang sayang. Mama Anjani masih harus mengumpulkan uang untuk Anjani. Dengerin Bu Ratna deh, mama Anjani disana pasti selalu merindukan dan mendoakan Anjani. Makanya Anjani ga boleh sedih lagi, Anjani harus rajin belajar dan buat mama Anjani bangga.” ujar ku menenangkan Anjani.
“Kemarin kata ibu kepala sekolah, negara kita kaya raya banyak hasil lautnya, hutannya, dan semuanya. Tapi kenapa mama Anjani masih harus pergi keluar negeri sana untuk bekerja bu?” pertanyaan polos yang diberikan Anjani membuat ku terdiam. Entah aku harus menjelaskan apa.

Memang Indonesia kaya akan tanahnya, airnya, tambangnya. Namun mengapa itu semua tidak cukup untuk rakyatnya. Masih saja banyak orang-orang yang bekerja di luar negeri sana. Disaat rakyatnya miskin kelaparan kekayaan Indonesia digeruk oleh orang-orang kapitalisme dan mebawa hasilnya ke negara mereka. Kami yang menanam tapi mengapa mereka yang memanen. Sungguh ironis.

“Mungkin ada alasan lain sayang, ya sudah jangan sedih lagi Anjani kan masih ada Bu Ratna.” Ucap ku tersenyum pada Anjani.
“Anjani sayang Bu Ratna” gadis kecil ini memeluk pinggang ku. “Bu Ratna jangan seperti mama ku yah ninggalin aku. Bu Ratna harus terus disini mengajar di desa ini.” ucapan polos bocah ini membuat ku terharu hingga menitikkan air mata. Namun tidak mungkin aku selamanya tinggal disini. Aku pun rindu dengan keluarga ku di Jakarta sana. Tak dapat bicara sepatah katapun hanya seulas senyum yang ku kembangkan. Saat ini aku bertanggung jawab untuk menyenangkan dan mengajar malaikat malaikat ku di desa ini saalah satunya Anjani.

                                                                         ***

“Assalamualaikum.” terdengar suara kompak bocah-bocah ku yang lain Anto, Didi, dan Fitri.
“Wa’alaikum sallam, kalian pasti mau pergi mengaji toh?” tanya ku pada bocah-bocah ini. Setiap sore tiba anak-anak didesa ini selalu pergi ke pondok samping masjid dengan menyandang Al-Qur’an. Sungguh suasana yang menenangkan hati
“Iya bu kami mau berangkat ke pondok. Bu Ratna sama Anjani ngapain disini?” tanya seorang bocah dihadap ku sambil membetulkan sarung, Didi namanya.

 Bocah super energi ini tak pernah bisa diam kalau di kelas.  Selalu berteriak memaki temannya yang tidak memperhatikan pelajaran dikelas, kuat mondar-mandir membantu ku membawa buku ke taman baca, kuat mengayuh sepeda mengantar ibunya berjualan ke pasar setiap pagi, dan tak ketinggalan kuat pula ambisi dan pendiriannya. Namun kadang Didi sering digoda teman-temannya dengan julukan “kaleng rombeng” karna suaranya yang cempreng menusuk kuping. Mungkin ia sering lupa membawa remote untuk mengecilkan volume suaranya.

 “Oh ibu sedang mengobrol bareng Anjani.” jawab ku.
“Kita juga mau ikut nimbrung bu.” Anto mulai bersuara. Anto duduk di bale di ikuti semua temannya. “Ibu lagi ngomongin apa sih?” lanjut Anto.
“Ih Anto kamu kepengen tau saja. Ini urusan aku dengan Bu Ratna.” ujar Anjani dengan wajah cemberut.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Anto dan Anjani. “Kenapa kalian tidak segera ke pondok? Nanti Ustad Rahmat mencari loh.” usul ku pada mereka.
“Ah ibu ini baru pukul lima sore bu, belum Magrib. Kami juga pengen ikut cerita sama ibu benarkan Anto, Didi?” celoteh Fitri sambil mengerlingkan mata beningnya. Bibirnya melengkung mengukirkan senyum khasnya. Melihat Fitri aku gemas sekali.
“Oke-oke sekarang kita mau cerita apa? tanya ku pada mereka.“Cerita tentang cita-cita saja bu.” ucap semangat Anto.
Ayo cita-cita kalian apa?” Meraka sangat antusias jika berbicara tentang cita-cita. Seakan mereka menemukan mimpi-mimpi mereka. Mimpi yang akan merangkai masaa depan mereka untuk dua puluh atau tiga puluh tahun nanti.
“Aku dulu yah bu aku dulu.” suara Didi yang tinggi melengking menimbulkan bunyi nging- nging ditelinga.
“Didi kamu berisik sekali sih.” omel Fitri yang tepat disamping Didi. Didi tidak menghiraukan omelan Fitri, Ia sangat semangat bercerita cita-citanya.
“Cita-cita aku ingin jadi tentara memakai seragam loreng-loreng, berdiri dengan gagah berani membawa senjata dan siap menembak siapa saja yang mengganggu Indonesia. Tapi aku juga ingin jadi supir pesawat bu.” cerita Didi
“Supir pesawat? Maksud kamu pilot Di?” Mungkin dia lupa istilah pilot sebagai pengemudi pesawat. Semoga saja Didi tidak lupa istilah masinis dan nakodah.
“Iya bu jadi pilot. Nanti kan aku bisa jalan-jalan ke Jakarta dan keluar negeri bu. Aku bakal mengajak bapake, ibuke, bude ku, dan bu Ratna juga jalan-jalan keliling dunia.” ujar Didi serius.
“Aku ga diajak Di?” tanya Fitri.
“Aku engga mau ajak kamu ah, kamu suka marah marah sih habisnya. Nanti kamu bakal ganggu konterasi aku kemudikan pesawat.”
“Ih Didi konsentrasi tau, bukan konterasi.” Omel Fitri. “Habisanya kamu sering berisik sih ditelinga aku. Makanya kalau ngomong pelan-pelan Didi.” lanjut Fitri.

“Bu.. bu.. aku juga mau keluar negeri bu, aku ingin jadi pengusaha batik disana supaya batik Mbok ku terkenal. Siapa tau nanti artis kesukaan aku Justin Bieber akan pakai baju batik buatan Mbok ku. Waduh keren kan, pasti Indonesia bakal terkenal ga kalah sama Amerika.” cerita Fitri dengan menggebu-gebu.
Aku tersenyum menahan geli mendengar cerita Fitri, khayalannya begitu tinggi. Namun tidak ada yang tidak mungkin bukan. Kalau Batik sudah terkenal dan termasyur bukan hanya seorang Justin Bieber yang akan mengenakanya. Actor favorit ku Leonardo Dicaprio pasti akan memakainya, apalagi kalau batik yang dipakai itu produksi murid ku.

Fitri, gadis kecil anak seorang pembatik tulis di desa ini. Ibu nya sangat telaten menorehkan canting ke dalam selembar kain, sehingga menghasilkan batik yang indah. Julukan sang Pemimpi sangat tepat untuknya, Ia memiliki imajinasi yang luar biasa jika disuruh bercerita dan menggambar. Hobinya adalah membaca, ia tak pernah absen ke taman baca yang didirikan oleh ku dan rekan relawan lainnya. Bahkan jika ada buku baru ialah peminjam pertama. Tidak heran, kenapa Fitri punya segudang ide untuk menggambar. Aku akan berusaha untuk menjadi bagian dalam mungujudkan mimpinya.

 “Kamu itu mimpi, mana mau Justin Bieber pakai batik. Batik itu kan kuno lihat deh gayanya Justin Bieber kan hiphop gitu” ledek Anto.
“Anto tidak boleh begitu, kamu kan anak Indonesia. Anak Indonesia harus cinta Indonesia. Cinta produk dalam negerinya, cinta budayanya, dan cinta keindahan alamnya. Kalau sudah cinta pasti bakal menjaganya kan? Batik itu warisan kesenian nenek moyang Indonesia, kita harus tetap menjaga dan mempopulerkan batik sampai ke mata dunia. Kata siapa batik itu kuno? Kamu lihat deh para perancang busana terkenal saja sekarang banyak yang menggunakan motif batik. Kita semua harus jaga kekayaan budaya Indonesia termasuk Batik supaya engga dicolong sama bangsa lain.” ujar ku pada mereka.
“Iya bu. Aku juga punya cita-cita bu. Aku ingin jadi juragan gabah bu seperti Mbah Karyo. Rumahnya bagus, banyak mobil, tanahnya dimana-mana. Pokoknya enak, jadi bapake engga harus capai- capai cangkul sawah lagi. Tinggal duduk manis menunggu kiriman gabah saja dirumah.” Kini mulai Anto yang bercerita. Ia terinspirasi dengan tengkulak di desa ini.

Anto anak seorang petani desa, bocah pencinta warna hijau muda yang memiliki daya tangkap dan daya ingat yang sangat bagus. Setiap kali aku mengajar pelajaran IPA, pasti selalu mendengar suaranya yang berteriak-terika meski serak menjawab pertanyaan dari ku. Begitupun setiap minggu sore saat kami mengadakan les, ia lompat menjawab pertanyaan dengan tangan mengacung.

“Anto jangan hanya jadi juragan saja, tapi harus menjadi ahli teknologi pertanian juga dan mempunyai perusahaan beras yang besar. Supaya stok beras kita terpenuhi dan engga import lagi dari luar negeri. Sehingga para petani kita akan sejahtera.” jelas ku pada Anto
“Import itu apa bu?” tanya Anjani yang sedari tadi diam serius mendengar cerita teman-temannya.
“Import itu mendatangkan barang dari luar negeri sayang, jadi kita yang membeli beras dari luar negeri. “
“Terus bu kalau kita import beras dari luar negeri, beras hasil petani kita bagaimana bu?” Anto kembali bertanya ia mulai tanggap dengan apa yang aku bicarakan.
“Kita mengimport beras karna beras yang kita miliki tidak mencukupi kebutuhan pangan nasional. Akhirnya untuk mencukupi pangan terpaksa membeli beras dari luar negeri. Nah makanya kasihan para petani kita yang penghasilannya turun. Kalian-kalian harus belajar yang pintar agar nanti bisa melakukan penelitian untuk produksi pertanian kita.” Ujar ku menjelaskan. Wajah-wajah sumringah mereka membuat ku bahagia.

“Kalau cita-cita Anjani ingin jadi apa?” tanya ku pada gadis kecil disampingku.
“Aku ingin jadi dokter bu, mengobati orang-orang yang sakit didesa ini. Kasihan kan kalo ada yang sakit orang-orang harus ke kebupaten dulu buat ke puskesmas. Nanti kalau Anjani jadi dokter, Anjani akan buat rumah sakit yang besar disini. Biar orang-orang desa sehat dan engga ada yang sakit lagi.” Celoteh Anjani.

Memang di desa ini fasilitas kesehatan sangat minim tidak ada klinik, hanya ada puskesmas. Untuk kesananya pun menempuh jarak yang cukup jauh kira-kira sepuluh kilometer dari desa. Apalagi ditambah dengan sarana transportasi yang kurang memadai. Sehingga mereka hanya mengandalkan seorang mantri kampung, dan jika ada yang melahirkan tidak ada bidan  melaikan hanya dukun beranak.

“Wah cita-cita kamu mulia sekali Anjani.”  Anjani membalas dengan senyum manisnya. Ini hanya secuil harapan anak-anak desa. Masih banyak harapan emas anak-anak bangsa disetiap sudut Indonesia ini.


Suara adzan Magrib berkumandang merdu dari Masjid diseberang bale yang kami duduki. Matahari sudah terbenam langit sudah gelap, bulan mulai muncul dibalik awan. “Ayo sudah Magrib cepat pergi ke pondok sudah ditunggu Ustad Rahmat.” ajak ku pada mereka. Anto dan Didi pun bergegas membetulkan sarung juga peci yang mereka kenakannya. Mereka berempat bersiap untuk segera pergi ke pondok. Satu persatu mereka menyalami ku memohon izin dan restu untuk menuntut ilmu. Disudut ini aku menemukan kekuatan bangsa, jati diri bangsa yang tersimpan dalam diri malaikat – malaikat kecil ku ini. Semoga tidak hanya sebuah impian manis, aku berjanji semampu ku mewujudkan harapan mereka.

                                                                        End



*maaf kalau cerpennya banyak kekurangan dalam pemilihan kata, tanda baja, dan EYD. Masih belajar dan akan terus belajar :)


 

Olive's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review