Sabtu, 19 Maret 2016

Terapi Humanistik Eksistensial (softskill M2)

Diposting oleh Unknown di 20.02 0 komentar
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi para pembaca

Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang Terapi Humanistik Eksistensial. Tulisan ini bertujuan untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Psikoterapi semester 6 untuk minggu kedua. Dalam tulisan ini sebelum masuk ke inti pembahasan terapi humanistik nya, saya akan membahas sedikit riwayat sang tokoh yaitu Carl Roger dan teori-teorinya dalam Psikologi Humanistik. Materi tulisan ini saya dapatkan dari beberapa sumber yang jelas seperti dari modul kuliah dan beberapa jurnal. Selamat membaca, semoga bermanfaat 




Sejarah dan riwayat Carl Rogers.
Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society.
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien. Hasil karya Rogers yang paling terkenal dan masih menjadi literatur sampai hari ini adalah metode konseling yang disebut Client-Centered Therapy. Dua buah bukunya yang juga sangat terkenal adalah Client-Centered Therapy(1951) dan On Becoming a Person (1961).

Teori Carl Rogers dalam Psikologi Humanistik


 Asumsi-asumsi dasar dari teori humanistikmeliputi dua asumsi besar yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi diri. Kecenderungan formatif merupakan kecenderungan terhadap  semua hal, baik organis maupun anorganis untuk berkembang dari suatu bentuk yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Kecenderungan mengaktualisasi merupakan kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya (J Feist dan Gregory J. Feist, (2008;273). Tiap individual mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya. Kecenderungan ini satu-satunya motif yang dimiliki manusia. Kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar, mengekspresikan emosi-emosi mendalam yang dirasakan, dan menerima diri seseorang.
 Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak–kanak. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Terapi Eksistensial Humanistik


Pengertian :
Menurut Gerald Corey terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya. Selanjutnya menurut Kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.
Terapi Eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia dan sistem tehnik-tehnik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Eksistensial humanistik berasumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi - potensi yang baik minimal lebih banyak baiknya dari pada buruknya. Terapi eksistensial humanistik memusatkan perhatian untuk menelaah kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan kemampuan khusus manusia yang terpateri pada eksistensial manusia, seperti kemampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajinasi, kreatifitas, kebebasan sikap etis dan rasa estetika.
Tujuan :
Tujuan mendasar eksistensial humanistik adalah membantu individu menemukan nilai, makna, dan tujuan dalam hidup manusia sendiri. Juga diarahkan untuk membantu klien agar menjadi lebih sadar bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak, dan kemudian membantu mereka membuat pilihan hidup yang memungkinkannya dapat mengaktualisasikan diri dan mencapai kehidupan yangb bermakna.

Fungsi dan Peran Terapis:
            Dalam pandangan eksistensialis tugas utama dari seorang terapis adalah mengeksplorasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketakberdayaan, keputusasaan, ketakbermaknaan, dan kekosongan eksistensial serta berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya. Memandang bahwa tugas terapis bukanlah untuk merawat atau mengobati pasien, akan tetapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari tentang apa yang sedang mereka lakukan, dan untuk membantu mereka keluar dari posisi peran sebagai korban dalam hidupnya dalam keberadaanya di dunia.  “Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subyek yang memiliki dunia”. Frankl (1959), menjabarkan peran terapis bukanlah menyampaikan kepada klien apa makna hidup yang harus diciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa klien bisa menemukan makna, bahkan dari penderitaan. Dengan pandangannya itu Frankl bukan hendak menyebarkan aroma yang pesimistik dari filsafat eksistensial, melainkan mengingatkan bahwa penderitaan manusia (aspek-aspek tragis dan negatif dari hidup ) bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu. Frankl juga menekankan nbahwa orang-orang bisa menghadapi penderitaan, perasaan berdosa, kematian, dan dalam konfrontasi menantang penderitaan, sehingga mencapai kemenangan. Ketidak bermaknaan dan kehampaan eksistensial adalah masalah-masalah utama yang harus dihadapi dalam proses terapiutik.

Proses Terapi Eksistensial Humanistik :
Terapis eksistensial mendorong kebebasan dan tanggung jawab, mendorong klien untuk menangani kecemasan, keputusasaan, dan mendorong munculnya upaya-upaya untuk membuat pilihan yang bermakna. Untuk menjaga penekanan pada kebebasan pribadi, terapis perlu mengekspresikan nilai-nilai dan keyakinan mereka sendiri, memberikan arahan, menggunakan humor, dan memberikan sugesti dan interpretsai dan tetap memberikan kebebasan pada klien untuk memilih sendiri manakah diantara alternatif-alternatif yang telah diberikan. Untuk dapat memahami sepenuhnya perasaan dan pikiran terapis tentang isu-isu kematian, isolasi, putus asa dan rasa bersalah, terapis perlu melibatkan dirinya dalam kehidupan klien. Untuk mencapai kondisi seperti itu, terapis harus mengkomunikasikan empati, respek, atau penghargaan, dukungan, dorongan, keterbukaan, dan kepedulian yang tulus. Sepanjang proses terapi, terapis harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh sehingga mereka dapat memahami pandangan-pandangan terapis kemudian membantunya mengekspresikan ketakutan-ketakutannya dan mengambil tanggung jawab bagi kehidupannya sendiri.
Teknik utama eksistensial humanistik pada dasarnya adalah penggunaan pribadi terapis dan hubungan terapis-klien sebagai kondisi perubahan. Namun eksistensial humanistik juga merekomendasikan beberapa teknik (pendekatan) khusus seperti menghayati keberadaan dunia obyektif dan subyektif klien, pengalaman pertumbuhan simbolik ( suatu bentuk interpretasi dan pengakuan dasar tentang dimensi-dimensi simbolik dari pengalaman yang mengarahkan pada kesadaran yang lebih tinggi, pengungkapan makna, dan pertumbuhan pribadi). Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis.

Proses terapis oleh para eksistensial meliputi tiga tahap :
1. Tahap pertama, terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Terapis mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
2. Pada tahap kedua, terapis  didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
 3. Tahap ketiga berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.



Sumber :
·         Ratu, B. (2014). “Psikologi Humanistik (Carl Rogers) dalam Bimbingan dan Konseling”. Jurnal FKIP Universitas Tadulako. Vol. 17 No. 3. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Kreatif/article/view/3349/2385 diakses pada tanggal 20 Maret pukul 09.17 WIB

·         http://digilib.uinsby.ac.id/10126/6/bab%202.pdf Modul perkuliahan

PHDAN HUMANISTIK, A MASLOW - modul.mercubuana.ac.id

Minggu, 13 Maret 2016

Terapi Psikoanalisa (Softskill M1)

Diposting oleh Unknown di 15.46 0 komentar
Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat malam blogger J

Tulisan ini saya tujukan untuk memenui tugas softskill mata kuliah Psikterapi di semester enam ini. Minggu ini (minggu pertama) saya akan membahas mengenai Psikoanalisa dalam terapi psikoanalisi. Untuk itu saya akan mengulang secara singkat mengenai teori psikoanalisa yang saya peroleh dari beberapa buku kepribadian sebagai sumbernya. Selamat membaca J

Psikoanalisa dipopulerkan oleh seorang bapak Psikologi yang bernama Sigmund Freud. Beliau lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia. Penemuan terbesar Freud pada teori kepribadian adalah penelitiannya mengenai dunia ketidaksadaran dan keyakinannya bahwa manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau mereka tidak sadari. Menurutnya kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat yaitu alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tidak sadari tetapi mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita, contohnya amarah seorang anak terhadaap ayahnya yang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang namun berlebihan. Kemudian alam sadar adalah elemen-elemen mental yang tiap saat berada dalam kesadaran, ini merupakan tingkat kehidupan mental yang bisa langsung diraih.

Bagi Freud bagian yang paling primitif dari pikiran adalah  id karena id tidak mempunyai kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupaya untuk meredam ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar untuk memperoleh kepuasan yang kita menyebutkanya dengan prinsip kesenangan. Bagian kedua adalah ego, yaitu satu-satunya wilayah dari pikiran yang berhubungan dengan dunia luar karena ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan sehingga mempunya peran dalam pengambilan keputusan dari kepribadian, Kemudian yang terakhir adalah bagian ketiga yaitu superego, ini merupakan perwakilan dari aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian berbeda dengan prinsip kesenangan dan prinsip realistis.

Kesadaran & ketidaksadaran
·         Konsep Ketidaksadaran
Ø  Mimpi merupakan representative simbolik dari kebutuhanm- kebutuhan, hasrat – hasrat dan konflik
Ø  Salah ucap / lupa terhadap nama yang dikenal
Ø  Sugesti Pascahipnotik
Ø  Bahan-bahan yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
Ø  Bahaan-bahan yg berasal dari teknik proyektif
Kecemasan
·         Adalah suatu keadaan yang memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya. Tiga macam kecemasan, yaitu :
Ø  Kecemasan realistis
Ø  Kecemasan neurotic
Ø  Kecemasan moral

Sumbangan utama psikoanalisis :
1.      Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bias diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia
2.      Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor tak sadar
3.      Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian dimasa dewasa
4.      Teori psikoanalisis menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yg di gunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan
5.      Terapi psikoanalisis telah memberikan cara untuk mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi


TERAPI PSIKOANALISA

Tujuan utama terapi psikoanalisis adalah untuk mengungkapkan ingatan – ingatan yang direpresipkan. Terapi ini bekerja dengan mengubah apa yang tidak sadar menjadi sadar dan terapi bekerja hanya sejauh berada dalam keadaan untuk menghasilkan perubahan. Secara lebih khusus tujuan psikoanalisis adalah memperkuat ego membuatnya lebih indenpenden dari superego, memperlebar medan preseptual dan memperluas organisasinya segingga ia dapat mengambil bagian-bagian yang segar dari id. Dimana id berada, disitu ego slalu akan berada. Dengan uraian tersebut dapat disimpuulkan bahwa terapi psikoanalisa dapat membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien dan focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.

Terapis
Terapis atau analis membiarkan dirinya anonym serta hanya berbagi sedikit perasaan & pengalaman lalu klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis. Peran terapis adalah sebagai berikut :
Ø  Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis
Ø  Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
Ø  Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
Ø  Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan & pertentangan-pertentangan pada cerita klien

Klien
Peran klien dalam terapi sabagai berikut :
·         Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yg intensif & berjangka panjang
·         Mengembangkan hubungan denga analis / terapis
·         Mengalami krisis treatment
·         Memperoleh pemahamn atas masa lampau klien yang tak disadari
·         Mengembangkan resistensi-resistensi untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri
·         Mengembangkan suatu hubungan transferensi yang tersingkap
·         Memperdalam terapi
·         Menangani resistensi-resistensi & masalah yangg terungkap
·         Mengakhiri terapi

Hubungan terapis & klien
·         Hubungan dikonseptualkan dalam proses tranferensi yg menjadi inti terapi Psikoanalisis
·         Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan padad terapis “ urusan yg belum selesai” yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lalu dengan orang yang berpengaruh
·         Sejumlah perasaan klien timbul dari konflik-konflik seperti percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci
·         Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yg menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan & dendamnya
·         Jika analis mengembangkan pandangan yang tidak selaras yg berasal dari konflik-konflik sendiri, maka akan terjadi kontra transferensi
Ø  Bentuk kontratransferensi, perasaan tdk suka / keterikatan & keterlibatan yg berlebihan
Ø  Kontratransferensi dapat mengganngu kemajuan terapi

Teknik dasar Terapi Psikoanalisis
2.      Asosiasi bebas
adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman masa lalu & pelepasan emosi yamg berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu. Pasien diminta untuk mengungkapkan dengan kata-kata apa saja yang muncul dipikirannya dengan tanpa memperhatikan apakah yang dikemukakannya itu tidak relevan atau menjijikan. Tujuannya untuk mencapai kesadaran dengan bertolak dari pikiran sadar sekarang dan mengikutinya melalui suatu rentetan asosasi-asosiasi sampai kemana saja ia membawanya.
3.      Penafsiran
suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan transferensi. Bentuknya tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna.
4.      Analisis Mimpi
suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan. Pasien diminta untuk mengungkapkan suatu mimpi dan semua pikiran yang berkaitan dengannya. Selain meminta asosiasi-asosiasi dari orang yang bermimpi, menggunakan simbolisme untuk menginterprestasikan mimpi
5.      Analisis dan Penafsiran Resistensi
ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya
6.      Analisis & Penafsiran Transferensi
adalah teknik utama dalam Psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi. Perasaan transferensi diperoleh terapis dan hanya dipindahkan kepadanya dari pengalaman pasien sebelumnya, biasanya pengalaman dengan orang tuanya

Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis

Kelebihan
·         Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.
·         Dengan terapi ini terapis bisa lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
·         Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.

Kekurangan
·         Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang
·         Tidak selamanya ingatan lama dapat dan harus disadari
·         Perawatan tidak efektif dengan psikosis atau penyakit konstitusional
·         Pasien yang sudah sembuh kemungkinan dapat mengembangkan neorosis yang lain
·         Psikoanasis harus digunakan bersama terapi lain
·         

Sekian tulisan mengenai terapi psikoanalisi, semoga bermanfaat untuk teman-teman semuanya J
                                                                                                            Wassalamualaikum Wr. Wb


Sumber :

Feist, J., & Feist, J. G. (2012) Teori Kepribadian Theories of Personality. Jakarta: Salemba Humanika.

Semiun, Yustinus. (2006) Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalistik Freud, Yogyakarta: Kanisisus



Rabu, 28 Oktober 2015

Psikologi Manajemen (softskill)

Diposting oleh Unknown di 19.54 0 komentar
      Assalamualaikum Wr, Wb
      Selamat malam, post blog kali ini bertujuan untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Psikolog       Managemen. Semoga bermanfaat dan selamat membaca...




Sejarah & Definisi
  

A.    Sejarah Psikologi Manajemen

     
     Pada awalnya psikologi manajemen merupakan dua bidang ilmu yang terpisah, yaitu psikologi dan manajemen. Untuk menjamin kesuksesan suatu organisasi diperlukan pemahaman yang baik terhadap teori manajemen guna mendorong efektivitas dan efisiensi kerja atau profesionalisme manajemen. Hal ini disebabkan manajemen merupakan kombinasi antara ilmu dan seni. Awalnya konsep manajemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, kemudian timbul pemikiran bahwa akal manusia dapat memenuhi kebutuhan itu secara lebih efektif lagi, setelah itu dibutuhkan modal untuk mendanai alat yang akan membantu dalam meningkatkan efektifitas. Maka, sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Uang) dan SDM (Manusia), dan ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja itu. Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting, karena ilmu psikologi yang memang berpusat pada manusia, yang mampu mengintervensi atau mengolah berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

Gerakan manajemen ilmiah sebenarnya telah dimulai sekitar abad yang lalu,dimana para insyinur Amerika Serikat dan Eropa mencari dan mengembangkan cara – cara baru untuk mengelolah suatu perusahaan. Beberapa variabel yang di pehatikan dalam manajemen ilmiah adalah :

  • .       Pentingnya peranan manajer dalam menggerakkna dan meningkatkan produktivitas perusahaan. 
  •     Pengangkatan dan pemanfaaatan tenaga kerja dengan persyaratan – persyaratannya. 
  •     Tanggung jawab kesejahteraan pegawai dan karyawan. 
  •     Kondisi yang cukup untuk meningkatan produktivitas kerja.

 B.     Pengertian Manajemen

Menurut Stoner manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Follet manajemen merupakan ilmu dan seni. Seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. Seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. (Ernie&Kurniawan, 2005).
Adanya penggunaan sumber daya organisasi, baik sumber daya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya keuangan, serta informasi (Griffin,2002). Adanya proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan. Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.



Ada 4 fungsi utama dalam manajemen :

- Perencanaan (Planning)
- Pengorganisasian (Organizing),
- Pengarahan (Actuating/Directing)
- Pengawasan (Controlling)


 C.    Hubungan dengan Psikologi: 

         Ilmu psikologi berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dan laim- laim dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. Kegiatan intervensi (yang bertujuan untuk "mengolah" manusia) menjadi titik tolak dari kajian ilmu psikologi manajemen. Hal ini bertujuan agar seluruh karyawan/SDM (Sumber Daya Manusia) dari suatu organisasi/perusahaan mengerti betul akan tugasnya, mampu memberikan informasi kepada pelanggan atau rekan kerjanya dan pada akhirnya membuat karyawan itu senang pada pekerjaan dan perusahaannya. 
 Kesimpulannya psikologi manajemen ialah  suatu studi tentang tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan funsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
    

Komunikasi




Definisi Komunikasi



     Orang memulai, merubah, serta mengakhiri suatu hubungan dengan jalan berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi adalah saluran mereka untuk mempengaruhi serta mekanisme mereka untuk melakukan perubahan. Akhir – akhir ini didalam organisasi industri masalah berkomunikasi tentang komunikasi telah menjadi populer yaitu berbicara dan menulis tentang pentingnya komunikasi. Pembicaraan tentang komunikasi adalah tepat sebab sebetulnya komunikasi adalah suatu dimensi yang kritis dan organisasi. Dance (1970) menghimpun tidak kurang dari 98 definisi komunikasi. Definisi-definisi tersebut dilatarbelakangi berbagai perspektif : mekanistis, sosiologistis, dan psikologistis. Hovland, Janis, dan Kelly, semuanya psikolog mendefinisikan komunikasi sebagai “the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience)” (1953:12). Dance (1967) mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagi usaha ”menimbulkan respons melalui lambang-lambang verbal”, ketika lambing-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli.
Kamus psikologi, Dictionary of Behavioral Science, menyebutkan 6 pengertian komunikasi :
1.      Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sitem saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara.
2.      Pennyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme.
3.      Pesan yang disampaikan.
4.      (Teori Komunikasi). Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan.
5.      (K. Lewin). Pengaruh satu wilayah persona pada wilayah persona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain.
6.      Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi.
Daftar pengertian diatas, menunnjukan rentangan makna komunikasi sebagaiman digunakan dalam dunia psikologi. Bila diperhatikan, dalam psikologi, komunikasi mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energy, gelombang suara, tanda diantara tempat, sistem atau organisme. Kata komunikasi sendiri dipergunakan sebgai proses, sebagai pesan, sebagai pengruh, atau secara khusus sebagai pesan pasien dalam psikoterapi. Jadi psikologi menyebutkan komunikasi pada penyampaian energy dari alat-alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam diri organisme dan diantara organisme. 

Dimensi komunikasi

Pembicaraan tentang komunikasi adalah tepat sebab sebetulnya komunikasi adalah suatu dimensi yang kritis dan organisasi. Berikut adalah dimensi komunikasi :
1.      Isi
Saat dua orang sedang berbicara sesuatu contoh A dengan B. Poses tersebut mempunyai suatu isi. Mereka mungkin membicarakan tentang permainan baseball, atau masalah bisnis, ataupun masalah seks. Apabila kita bersuara di suatu percakapan biasanyan isi pertaman –tamanya adalah mengenai diri kita. Memang isi dari komunikasi adalah merupakan hal yang dipikirkan oleh para ahli psikologi dah ahli bisnis ketika mereka memikirkan tentang hubungan antar manusia. Kita juga dapet melihat adanya pembagian golongan dalam isi. Kita dapat membeda – bedaakan kategori  dari jenis isi, misalkan apakah hal itu merupakan fakta atau perasaan.

2.      Bising
Ada percakapan yang relatif terjadi dengan bising (noise), sedangkan yang lainnya relatif tanpa bising. Didalam konteks ini “bising” berarti hal –hal  yang menggangu  pengiriman. Kita dapat menjumpai suara saluran seperti gangguan udara pada kawat telepon yang menyebabkan B sukar untuk mendengar apa yang dikatakan oleh A.kita juga perlu memikirkan danya suara –suara psikologis, seperti misalnya pemikiran B tentang hal – hal lain, sehingga sekali lagi adalah sukar bagi B untuk mendengar apa yang dikatakan A.  Bahasa dan suara kode mungkin menyebabkan kesukaran bagi B untuk mendengarkannya ia tidak memahami kata – kata yang dipergunakan oleh A didalam cara sebagaimana A memahaminya. Ini dapat mengakibatkn kesalahan presepsi. Berlebih – lebihan merupakan salah satu senjata umum yang paling banyak dipergunakan untuk melawan bising . seama adanya bising , berlebih – lebihan adalah membantu meneruskan isi, dan merupakan hal yang “tidak efisien.

3.      Jaringan komunikasi
Biasanya kita berfikir bahwa percakapan antara A dan B adlah langsung. Tetapi banyak percakapan semacam itu terutama diorganisasi , ditengahi oleh orang lain. Suatu hal yang dianggap hatus dinyatakan pleh bagan organisai kepada kita ialah bahwa A dapat berbicara dengan B hanya dengan melaliu C dan D. Bahwa struktur jaringan yang dipergunakan oleh siatu organisasi dapat sangat bermanfaat bagi kecepatan dan ketepatan komunikasi antar anggotanya satu sama lain.

4.      Arah komunikasi
Satu dimensi lagi dari nproses komunikasi tersebut penting untuk diketahui, terutama karena hal itu telah sangat sukar untuk dikuasai didalam kepustakaan mengenai kepemimpinan. Hal itu ialah arah komunikasi  - satu arah atau dua arah. Lagi – lagi ini adalah merupakan dimensi yang bebas. Apapun yang mungkin dikatakan oleh A dan B sejauh mana pu ganguan suara ikut terlibat, bagaimanapun jaringannya, A mungkin berbicara dengan B dengan cara satu arah atau dua arah.

Komunikasi satu – arah versus komunikasi dua – arah.

          Pada dasarnya masalah kita dalah menjelaskan perbedaan antara dua situai ini, (1) satu orang, A berbicara kepada orang lain, yaitu B, tanpa balasan pembicaraan dari B kepada A, versus (2) percakapan dari A kepada B dengan percakapan balasan dari B kepada A. Perbedaan –perbedaan dapat dijelaskan paling baik dengan jalan menguji suatu metode terhadap metode yang lain.

Komunikasi satu arah adalah sangat cepat dari pada komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah adalah lebih tepat dari pada komunikasi satu arah. Para penerima lebih yakin terhadap diri mereka sendiri dan membuat penilaian – penilaian yang lebih benar tentang seberapa betul atau seberapa salah mereka didalam sistem komunikasi dua arah. Si pengirim mendapatkan dirinya merasa menghadapi serangan didalam sistem komunikasi dua arah, sebab para penerimanya menangkap kesalahan – kesalahan tersebut. Si penerima mungkin membuat ucapan sindiran tentang kecerdasan dan keahlian si pengirim, dan, jika si penerima berusaha terlalu keras dan menjalankan tugas secara serius, mereka mungkin betul –betul menjadi marah kepada si pengirim, dan juga sebaliknya. Metode komunikasi dua arah  secara relatif adalah sangat gaduh dan kurang tertib – adanya orang yang mencela pembicaraan si pengirim dan menyela satu sama lain, adanya orang yang paling lamban menghalangi orang – orang lainnya, dan sebagainya. Metode satu arah, dipihak lain nampak rapi dan efisien bagi seorang pengamat dari luar, tetapi komunikasinya kurang teliti


Komunikasi Satu Arah dan Komunikasi Dua arah Sesungguhnya adalah Dua metode yang Berbeda  Satu Sama Lain.

     Komunikasi dua arah adalah suatu strategi yang lain lagi, yaitu semacam strategi yang bersifat “lokal” , dimana si pengirim mulai dengan melewati suatu jalan , meneruskan sedikit lagi dan kemudian ia menemukan dirinya berada pada rel yang salah , memebelok lagi, dan sebagainya.  Dengan definisi kita tentang komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah dalam organisasi dapat dikemukakan secara berbeda dari pada biasanya. Hal itu disebabkan karena kini kita dapat melihat konflik yang jelas anatara efisensi jangka pendek dari komunikasi dua arah dengan kebutuhan jangka panjang untuk memelihara kekuasaan dan wewenang pada bermacam-macam tingkatan hirarki.

Rintangan dalam Proses Komunikasi.

     Didalam dunia yang nyata, tentu saja rintangan-rintangan itu mungkin lebih besar dan jauh lebih banyak. Dalam rintangan proses komunikasi terdapat suatu moral yaitu bahwa jika seseorang menghendaki komunikasi dua arah di dalam organisasinya, ia lebih baik merencanakan sungguh-sungguh untuk melaksanakannya. Sebab hal itu tidak akan terjadi secara demikian saja atau dengan mengeluarkan suatu pengumuman.


Mempengaruhi Prilaku



Pusat perhatian  telah diarahkan kepada beberapa aspek umum dari banyak situasi perubahan prilaku. Pertama – pertama, kita telah selalu ingat bahwa perubahan adalah suatu proses emosional yang sangat tinggi. Penghargaaan itu seharusnya membawa si pengubah kearah memperlakukan logika sebagai sesuatu yang berguna tetapi merupakan alat yang sangat tebatas kekuatannya untuk mengubah.
            Si pengubah, A mempunyai masalah yang serius untuk mengerti tentang apa yang tengah dilakukannya. Sering para A betul –betul tidak mengerti tentang apa yang sedang mereka lakukan atau mengapa mereka melakukannya. Motif – motif mereka mengapa melakukannya sebagian tidak disadari dan tidak terlihat dan demikian pula tujuan – tujuan mereka. Kesiapan pemikiran yang maju dari tujuan – tujuan seseorang dapat menyebabkan sesuatu peninjauan kembali terhadap tujuan –tujuan atau bahkan penghentian dari suatu proyek perubahan.
            Pihak yang diubah harus mempunyai kekuasan untuk memutuskan apakah ia akan berubah atau tidak akan berubah. A dapat mempengaruhi keputusan tersebut tetapi ia tidak dapat membuatnya. Hal ini dapat disebabkan karena keputusan yang dibuat oleh B merupakan integrasi dari kekuatan – kekuatan yang dibebankan kepadanya oleh A bersama dengan sejumlah besar kekuatan – kekuatan dalam diri B yang tidak dapat dikuasai oleh A.
            Sementara A berusaha keras untuk memahami alasan – alasan B tentang perilakunya sekarang sebelum berusaha mengubah perilaku tersebut. Sementara orang lainnya tidak melakukan usaha semacam itu tetapi gantinya melihat kesamaan kesamaan yang diamati pada semua manusia. Sampai pada taraf tertentu ada keuntungan dari diagnosa tentang B. Tetapi jika B harus menguasai keputusan untuk berubah, maka mungkin lebih penting bahwa B membuat diagnosa tentang dirinya sendiri ketimbang A membuat diagnosa tentang B. Lagipula, proses diagnosa wenang oleh A terhadap B. Dan faham otoriter ini juga mengasumsikan sejenis B yang akan menerima hidup dengan peraturan – peraturan yang tidak pribadi serta perjanjian – perjanjian sosial.



Daftar Pustaka


Thoha, M (2005). Perilaku Organisasi (Konsep Dasar dan Aplikasinya). Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada

Hasibuan, S.P. (2007) Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta : Bumi Aksara

Budiyono, Haris. A. (2004). Pengantar Manajemen. Yogyakarta : Graha Ilmu


Leavitt, H.J (1997), Psikologi Manajemen,Jakarta :Erlangga


Nama : Olivia Resty Amallia
NPM  : 1613783
Kelas  : 3PA05

Psikologi Manajemen (Kekuasaan)

Diposting oleh Unknown di 01.06 0 komentar
Banyak pengertian kepemimpinan (dalam Wahjosumidjo) , di antaranya adalah “Leadership is influencing people to follow in the achievement of a common goal”. Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum. Dari tiga pengertian tersebut di atas, jelas bahwa kepemimpinan itu adalah upaya untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan, baik tujuan tersebut telah ditetapkan atau tujuan lain yang lebih luas. Upaya tersebut lebih bersifat hubungan antar pribadi.

Pengertian Pemimpin
Seperti halnya kepemimpinan, pengertian pemimpin juga banyak, di antaranya adalah:

a) Pemimpin adalah anggota dalam kelompok yang mempengaruhi kegiatan kelompok.
b) Pemimpin adalah salah seorang anggota yang terkemuka dari suatu kelompok atau organisasi yang begitu berpengaruh terhadap kegiatan dari anggota kelompoknya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi dalam kelompok, berpengaruh terhadap orang lain sesuai dengan peranannya dalam posisi itu, mengkoordinir secara langsung dalam memelihara dan mencapai tujuan kelompok.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki status tertinggi di dalam kelompoknya, mendapat kepercayaan untuk membawa kelompok ke arah tujuan bersama.

Kekuasaan

Wewenang yang dibicarakan disini adalah jenis kekuasaan remi, yang diorganisir , menjadi sistem peranan yang syah secara semu (quasi-legal). Dalam bab ini memusatkan perhatian kepada kekuasaan yang memaksa – yaitu pemerasan, tekanan, ancaman- yang merupakan taktik kekuasaan yang sering kita pandang rendah, tetapi digunakan juga.
  • Kekuasaan sebagai pengurangan 

Kita tidak perlu mengingatkan pembaca bahwa banyak dari pengaruh yang dipraktekan di dunia mengambil bentuk pemerasan, terror (perbuatan sewenang-wenang) dan ancaman. Taktik kekuasaan yang memaksa semacam itu biasanya bergantung kepada pengurangan (atau ancaman pengurangan) terhadap sarana-sarana pemuasan kebutuhan orangain, disertai dengan suatu tuntutan perubahan perilaku. Usaha untuk mempengaruhi dengan pengurangan mungkin tidak berhasil karena beberapa alasan sang penyelia mungkin telah salah menilai perlunya ancaman tersebut.
  • ·      Kekuasaan yang memaksa dan ketergantungan


Ada jenis lain dari  ketergantungan yang untuk kebanyakan dari kita telah menjadi sangat  implisit dan sangat meresap sehingga kita sekalipun jrang menyadarinya. Ketergantungan tersebut adalah ketergantungan yang menyangkut hubungan kita dengan hubungan kumpulan orang yang kita sebut masyarakat. Pada hakekatnya hal itu adalah ketergantungan kita kepada hukum dan peraturan-peraturan, pengharapan kita bahwa orang-orang lain di jalan, semua oranglain akan mematuhi peraturan-peraturan sosial sampai kepada yang paling ringan dalam interaksi mereka dengan kita. Apabila ketergantungan tersebut dilanggar, bila salah seorang dari kita dibegal atau seseorang memecahkan sebuah jendela rumah kita, maka kita mulai menghargai,  baik keadaan ketergantungan kita kepada peraturan-peraturan masyarakat maupun kerapuhan dari peraturan-peraturan ini. Jika kita mempertimbagkan sisi lain dari uang logam yang sama, kita dapat memahami penemuan yang menggembirakan tentang kekuasaan yang terdapat bersama-sama dengan pelanggaran yang sukses terhadap peraturan-peraturan sosial. Betapa hal itu pasti menyenangkan bagi para mahasiswa bila mereka menemukan kerapuhan dari universitas, yang berarti menemukan otot-otot mereka sendiri sebagaimana adanya.      
 

Olive's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review